Cara Menggapai Kelezatan Beribadah

Oleh: Syaikh Abdulaziz bin Baz – rahimahullah –
Pertanyaan:
Apa penyebab hilangnya kelezatan dalam ibadah, dan bagaimana solusi praktis untuk mengatasinya?

Jawaban:
بسم الله الرحمن الرحيم: الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه أما بعــد

Tidak ragu bahwa ibadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla memiliki kelezatan yang sangat agung dalam hati seorang mukmin dan mukminah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وجعلت قرة عيني في الصلاة
“Dan telah dijadikan penenang hatiku ada pada shalat”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda kepada Bilal radhiyallahu ‘anhu:
أرحنا بالصلاة
“Istirahatkanlah kami dengan shalat”
Maksudnya, tegakkanlah shalat sehingga kami merasa tenang dan beristirahat dalamnya.

Maka shalat yang merupakan ibadah paling agung setelah dua kalimat syahadat adalah penenang hati, penyedap pandangan mata, dan kenikmatan untuk ruh bagi siapa saja yang menghadapkan diri kepadanya, menghadirkan hati padanya, khusyuk kepada Allah padanya, dan sadar bahwa shalat adalah tiangnya agama Islam, dan bahwasanya shalat adalah munajat (perbincangan bisik-bisik) kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berdiri di hadapan-Nya.

Dengan itu maka dia akan merasakan ketentraman, ketenangan, dia akan mendapatkan kelezatan pada dirinya dalam keadaannya ketika berdiri membaca al-Quran, ketika rukuk, sujud, dan dalam segenap apa yang Allah syariatkan dalam shalat. Maka nashiatku untuk setiap mukmin dan mukminah untuk menghadapkan diri kepada amalan ibadah baik berupa shalat atau yang lainnya dengan menghadirkan hati padanya, merasakan bahwa dia melakukannya hanya karena Allah semata, mengharap pahala-Nya, takut akan siksa-Nya, dan yakin bahwa dia akan mendapatkan kebaikan yang besar di sisi Allah jika ikhlas karena-Nya dan melakukannya sesuai sunnah bukan dengan tatacara bid’ah.

Maka shalat, zakat, sedekah, puasa, haji, umrah, dzikir-dzikir yang syar’i, membaca al-Quran, dakwah mengajak kepada Allah, amar makruf nahi munkar, semuanya adalah ibadah-ibadah yang memiliki kelezatan yang agung dalam hati, ketenangan dalam hati, dan kenikmatan dalam jiwa. Dalam ibadah itu seorang mukmin mengingat bahwa dia melakukan sesuatu yang menjadikan Allah ridha, sesuatu yang Allah perintahkan, yang berpahala, sehingga dia akan merasa tenang karenanya dan merasakan kelezatannya, dikarenakan adanya kebaikan yang besar di dalamnya, dikarenakan itu adalah pelaksanaan perintah Allah, dikarenakan kebaikan yang agung ada padanya berupa pahala besar dari Allah, penghapusan dosa-dosa dan kesalahan, menggapai surga dan selamat dari neraka.

Dan demikian pula pengaruh baik dari dakwah mengajak kepada Allah, amar makruf nahi mungkar; yang termasuk kemaslahatan ibadah, membimbing manusia kepada kebaikan, membantu mereka untuk melaksanakan syariat Allah dan meninggalkan apa yang Allah haramkan. Semua ini adalah hal-hal bisa menjadikan jiwa-jiwa yang baik merasakan kelezatannya, hati-hati menjadi tentram dan pandangan kaum mukminin dan mukminat menjadi tenang karenanya. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman dalam kitabnya yang agung, dan Dia adalah Yang paling benar firman-Nya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ * أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang jika disebut nama Allah akan merasa takut hati-hati mereka, jika dibaca ayat-ayatNya bertambahlah keimanan mereka, dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka. Yaitu orang-orang yang menegakkan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Merekalah orang-orang yang beriman sesungguhnya, dan mereka mendapatkan beberapa derajat ketinggian di sisi Rabb mereka serta ampunan dan rezeki yang mulia.” (al-Anfal: 2-4)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; Imam yang adil…”

Sesungguhnya dia berlaku adil karena merasa takut kepada Allah dan mengharap pahala-Nya.

“Dan pemuda yang tumbuh berkembang dalam beribadah kepada Allah…”

Dia merasakan lezatnya ibadah karena mengetahui adanya kebaikan dalam ibadah itu, juga karena dalam hatinya telah menetap pengagungan kepada Allah, keikhlasan hanya kepada-Nya, kecintaan terhadap-Nya, dan harapan terhadap apa yang ada di sisi-Nya.

“Dan seseorang yang hatinya tertambat di masjid-masjid…”

Dia menambatkan hatinya kepada masjid-masjid karena dia mendapati kebaikan dalam shalat, juga mendapati ketenangan, ketentraman dan kenikmatan.

“Dan dua orang yang saling mencinta karena Allah, berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya…”

Karena keduanya telah mendapatkan adanya kebaikan yang sangat besar dalam kecintaan karena Allah, mereka juga mendapatkan ketenangan hati, kenikmatan jiwa dan kesenangan yang sangat besar. Karena mereka mengetahui bahwa hal ini akan membuat Allah ridha, dan Allah telah mensyariatkan hal itu untuk mereka, dan bahwasanya dengan hal itu akan terwujud kebaikan yang agung yang kadar keagungannya hanya diketahui oleh Allah; seperti adanya saling tolong-menolong, saling berwasiat dengan kebenaran dan saling menasihati.

Yang kelima,
“Seorang laki-laki yang diajak oleh wanita cantik dan berkedudukan lalu dia berkata sesungguhnya aku takut kepada Allah…”

Kenapa dia mengucapkan perkataan ini? karena dalam hatinya telah menetap kecintaan dan pengagungan kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya, sehingga dia meninggalkan wanita yang mengajaknya kepada perbuatan keji, padahal wanita itu memiliki kedudukan dan kecantikan. Dia menolak wanita itu karena takut kepada Allah dan mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya, juga karena merasa tenang dengan menaati-Nya, merasa lezat dengan apa yang menjadikan-Nya ridha.

Demikian pula seorang wanita, jika ada seorang laki-laki yang mengajaknya berbuat keji sedangkan laki-laki itu memiliki kedudukan dan ketampanan, lalu wanita itu berkata aku takut kepada Allah, dan wanita itu menjauhinya, (hal ini) karena telah menetap dalam hatinya kecintaan kepada Allah, kenikmatan jiwa dan kelezatan dalam menaati Allah dan mengikuti syariat-Nya.

Yang keenam,
“Seseorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya…”

Kenapa bisa demikian? Karena dalam hatinya telah menetap kecintaan dan pengagungan kepada Allah, dan (dia mengetahui) bahwasanya Allah mengetahui segala sesuatu, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, dan bahwasanya Allah mencintai keikhlasan hanya untuk-Nya, mencintai amalan yang dilakukan karena-Nya secara rahasia. Oleh karena inilah tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya. Karena besarnya keikhlasannya.

Yang ketujuh,
“Seseorang yang menyendiri berdzikir kepada Allah lalu mengalir air matanya.”

Seseorang yang menyendiri berdzikir kepada Allah, tidak ada seorang pun di sekitarnya, lalu mengalirlah kedua air matanya. Karena takut kepada Allah, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, merasa tenang dengan-Nya. Sehingga dia termasuk di antara tujuh golongan manusia yang akan Allah naungi mereka di bawah naungan-Nya.

Kesimpulannya;

Bahwa menghadapkan diri kepada Allah dalam beribadah, menghadirkan keagungan-Nya dan bahwa engkau hanya menginginkan Wajah-Nya yang Maha mulia, bahwa engkau melakukan ini semata karena mencari keridhaan-Nya, menaati perintah-Nya, karena kecintaaan terhadap-Nya, karena keinginan atas apa yang menjadikan-Nya ridha dan mendekatkan kepada-Nya, ini semua adalah hal-hal yang bisa menjadikanmu merasa lezat dalam beribadah, benar-benar menghadapkan diri terhadapnya, merasa tenang dan nikmat dengan ibadah. Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya.

Penanya berkata:
“Bagaimana dengan orang yang mengeluhkan kebalikannya wahai Syaikh? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.”

Syaikh menjawab:
Orang yang mengeluhkan kebalikannya, yakni mengeluhkan kerasnya hati, maka dia wajib untuk mengobati dirinya, dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, membaca al-Quran al-Karim, berwaspada terhadap dosa dan maksiat, bertaubat kepada Allah dari apa yang telah lalu, disertai dengan kesungguhan dan kejujuran padanya. Jika dia telah jujur terhadap Allah dalam bertaubat dari maksiat, dan dalam memperbanyak dzikir kepada Allah, dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya dengan hatinya dan menghadirkan keagungan Allah, dan bahwa Allah senantiasa mengawasinya, bahwa Allah maha mengawasi segala sesuatu, dan bahwasanya bersama dirinya ada dua malaikat; yang satu menulis kebaikan dan yang lain menulis keburukan; dengan menghadirkan perkara-perkara ini hatinya akan menjadi lembut, menjadi khusyuk, merasa lezat dengan ketaatan, merasa tenang, tentram dan senang dengan ketaatan.

Artikel ini diterjemahkan oleh alBamalanjy dari http://www.ibnbaz.org.sa/mat/17396

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s