10 Amalan Sederhana Berbuah Surga

Surga adalah negri kemuliaan yang Allah siapkan untuk hamba-hambaNya yang bertakwa. Surga tidak akan diraih hanya dengan angan-angan tanpa amalan. Dan surga hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang berserah diri kepada Allah, beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan sesuatu apa pun kepada Allah.
Karena luasnya rahmat Allah, Allah telah mensyariatkan berbagai amalan yang sangat banyak dalam Islam yang membuahkan surga bagi pelakunya. Hal ini tentu merupakan dorongan yang kuat bagi orang-orang yang beriman dan kemudahan bagi mereka yang ingin menggapai surga.
Berikut ini adalah sebagian kecil dari sekian banyak amalan itu. Semoga Allah memudahkan kita untuk menjadi hamba-hambaNya yang dimuliakan dengan surga-Nya. Amiin. 

1- Menjaga shalat dan tidak menyia-nyiakannya sedikit pun.

Dari Ubadah bin Shamit – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ

“Lima kali shalat yang Allah wajibkan atas hamba-hamba Nya, barang siapa melaksanakannya tanpa menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka dia memiliki perjanjian di sisi Allah bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Dan orang yang tidak melaksanakannya maka tidak ada perjanjian di sisi Allah untuknya. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menghukumnya dan jika Allah berkehendak maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga.” [1]

2- Berperilaku kepada orang lain sebagaimana dia senang diperlakukan oleh orang lain.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash – radhiyallahu ‘anhuma –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

“Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan masuk ke dalam surga, hendaknya kematian mendatanginya sedang dia dalam keadaan beriman kepada Allah, dan hendaknya dia berperilaku kepada orang lain sebagaimana dia senang diperlakukan oleh orang lain.” [2]

3- Menjenguk orang sakit, dan mengunjungi saudara seagama.

Dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

مَنْ عَادَ مَرِيضًا أَوْ زَارَ أَخًا لَهُ فِى اللَّهِ نَادَاهُ مُنَادٍ أَنْ طِبْتَ وَطَابَ مَمْشَاكَ وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلاً

“Barang siapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi salah seorang saudara seagamanya, niscaya akan ada seorang penyeru yang menyerukan, “Alangkah baiknya kamu, alangkah baiknya langkahmu, dan kamu akan menetap tinggal di surga.” [3]

4- Wanita yang taat kepada suaminya.

Dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya; niscaya dia akan masuk surga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.” [4]

5- Menjaga mulut dan kemaluan.

Dari Sahl bin Sa’ad – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bisa menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya, dan apa yang ada di antara kedua kakinya, niscaya aku akan jamin surga untuknya.” [5]

6- Menyingkirkan gangguan dari jalan.

Dari Abu Hurairah – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيقٍ فَقَالَ وَاللَّهِ لأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِينَ لاَ يُؤْذِيهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ

“Ada seseorang yang melewati sebuah ranting pohon yang berada di atas jalan, lalu dia berkata, Demi Allah aku akan menyingkirkannya dari kaum muslimin agar tidak mengganggu mereka. Maka dia pun dimasukkan ke dalam surga.” [6]

7- Dzikir setelah shalat, dan dzikir sebelum tidur.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash – radhiyallahu ‘anhuma –, dari Nabi – shallallâhu `alaihi wa sallam –, dia berkata,

خَصْلَتَانِ أَوْ خَلَّتَانِ لاَ يُحَافِظُ عَلَيْهِمَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ هُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ يُسَبِّحُ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُ عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسُونَ وَمِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ وَخَمْسُمِائَةٍ فِى الْمِيزَانِ وَيُكَبِّرُ أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ وَيَحْمَدُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ وَيُسَبِّحُ ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ فَذَلِكَ مِائَةٌ بِاللِّسَانِ وَأَلْفٌ فِى الْمِيزَانِ

“Ada dua perangai jika seorang hamba yang muslim menjaganya niscaya dia masuk surga. Dua perangai ini mudah namun sedikit yang mengamalkannya. Bertasbih (mengucapkan subhanallah) setiap selesai shalat (wajib) sebanyak sepuluh kali, bertahmid (mengucapkan alhamdulillah) sebanyak sepuluh kali, dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) sebanyak sepuluh kali. Maka jadilah (total satu hari) sebanyak seratus lima puluh kali di lisan, dan sebanyak seribu lima ratus kali di timbangan (mizan). Dan jika dia mulai berbaring (untuk tidur) dia bertakbir sebanyak tiga puluh empat kali, bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertasbih sebanyak tiga puluh tiga kali. Maka itu di lisan sebanyak seratus kali, sedangkan di mizan sebanyak seribu kali.”
(Abdullah bin Amr berkata) Dan sungguh aku telah melihat Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – menghitungnya dengan tangannya. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah bagaimana dua amalan ini muda namun sedikit orang yang mengamalkannya?”
Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

يَأْتِى أَحَدَكُمْ – يَعْنِى الشَّيْطَانَ – فِى مَنَامِهِ فَيُنَوِّمُهُ قَبْلَ أَنْ يَقُولَهُ وَيَأْتِيهِ فِى صَلاَتِهِ فَيُذَكِّرُهُ حَاجَةً قَبْلَ أَنْ يَقُولَهَا

“Setan mendatangi salah seorang dari kalian ketika mau tidur sehingga setan menjadikannya tidur sebelum dia mengucapkannya. Dan setan mendatanginya di shalatnya dan mengingat-ingatkan dia tentang hajatnya sebelum dia mengucapkannya.” [7]

8- Mengucapkan sayyidul istighfar di waktu pagi dan sore.

Dari Syaddad bin Aus – radhiyallahu ‘anhu –, Nabi – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ

“Sayyidul istighfar, adalah kamu mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَىَّ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى ، اغْفِرْ لِى ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau, Engkau telah menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu, dan aku menetapi perjanjian dengan-Mu sesuai dengan kemampuanku, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang ku perbuat, aku mengakui kepada-Mu seluruh nikmat-nikmat Mu kepadaku, dan aku mengakui dosa-dosaku, ampunilah aku, karena tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.”
Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Barang siapa mengucapkannya dengan yakin di waktu pagi lalu dia mati pada hari itu sebelum masuk waktu sore, maka dia termasuk penduduk surga. Dan barang siapa mengucapkan dengan yakin di waktu sore lalu dia mati sebelum masuk waktu subuh, maka dia termasuk penduduk surga.” [8]

9- Membaca dzikir ketika masuk pasar.

Dari Umar bin Khaththab – radhiyallahu ‘anhu –, Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

مَنْ قَالَ فِى السُّوقِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa di pasar membaca:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

“Tidak ada sesembahan yang hak selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, Dialah yang memiliki kerajaan dan segala pujian, Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia maha hidup tidak akan pernah mati, di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu.”

Niscaya Allah tuliskan baginya satu juta kebaikan, dan Allah hapuskan darinya satu juta kejelekan, dan Allah bangunkan untuknya satu rumah di dalam surga.” [9]

10- Menahan amarah.

Dari Abu Darda – radhiyallahu ‘anhu –, ada seseorang yang berkata kepada Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam –,

“Tunjukkanlah kepadaku suatu amal yang bisa memasukkanku ke dalam surga.”

Rasulullah – shallallâhu `alaihi wa sallam – bersabda,

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

“Janganlah kamu marah, dan kamu mendapat surga.” [10]
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

[1] Dikeluarkan oleh Abu Daud no. 1420, Ibnu Majah no. 1401, dan yang lainnya. Dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3243
[2] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1844
[3] Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi v no. 2008, dihasankan al-Albani.
[4] Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dan dia menshahihkannya sebagaimana disebutkan dalam Mawarid azh-Zham’an no. 1296. Dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 660
[5] Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6474
[6] Diriwayatkan oleh Muslim no. 1914
[7] Dikeluarkan oleh Abu Daud no. 5060, an-Nasai no. 1347, at-Tirmidzi no. 3410. Dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3230
[8] Diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 6306
[9] Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi no. 3428-3429. Dihasankan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6231.
[10] Dikeluarkan oleh ath-Thabarani dalam al-Ausath no. 2374, dan Abu Ya’la dalam al-Musnad no. 1593. Dishahihkan al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7374.

*) Catatan: Artikel ini telah dimuat di Majalah Sakinah Vol. 15 No. 2, Rubrik Lentera.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s