Manhaj, Nasihat

Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 2/2)

Oleh: Syaikh Abdurrozzaq bin Abdilmuhsin al-Badr —hafizhohumalloh

Lanjutan dari Kaidah Menjauhi Fitnah Bagian 1

Di antara kaidah agung untuk menghindari dan menjauhi fitnah, adalah sikap lemah lembut dan kehati-hatian, menjauhi sikap terburu-buru, tidak tergesa-gesa ingin mendapatkan hasil, serta memperhatikan kepada dari segala perkara. Karena sikap buru-buru tidak akan mendatangkan kebaikan, sedangkan dalam sikap hati-hati terdapat kebaikan dan berkah.

Barangsiapa yang suka terburu-buru dalam urusan-urusannya, jiwanya tidak akan aman dari ketergelinciran dan penyimpangan. Sebaliknya, siapa yang besikap lemah lembut dalam urusan-urusannya dan bersikap hati-hati dalam perjalanannya serta menjauhi sikap buru-buru dan ngawur, dan dengan senantiasa memperhatikan akibat dari berbagai perkara, maka dengan izin Alloh ‘azza wa jalla dia akan sampai kepada hasil yang terpuji yang akan membahagiakannya di dunia dan akhirat. Lanjutkan membaca “Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 2/2)”

Iklan
Manhaj, Nasihat

Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 1/2)

Oleh: Syaikh Abdurrozzaq bin Abdilmuhsin al-Badr —hafizhohumalloh

Telah sah dari Nabi —shollallohu ‘alaihi wa sallam— bahwa beliau bersabda,
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ
“Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dijauhkan dari berbagai fitnah.” (Riwayat Abu Daud dan yang lain, dari al-Miqdad bin al-Aswad —rodhiyallohu ‘anhu)

Disinilah orang-orang yang memiliki kecemburuan dan menginginkan kebaikan, yang menghendaki keselamatan untuk diri mereka dan menginginkan ketinggian bagi umat mereka, umat Islam, bertanya-tanya tentang bagaimana menggapai kebahagiaan ini. Bagaimana cara meraih kebahagiaan itu, bagaimana menghindari berbagai fitnah dan bagaimana seorang muslim bisa dijauhkan darinya, sehingga dia bisa selamat dari berbagai keburukan dan bahayanya. Karena seorang muslim yang menginginkan kebaikan dan memiliki kecemburuan tidak menginginkan fitnah baik untuk dirinya maupun untuk umatnya. Karena dalam hatinya pasti terdapat nasihat untuk dirinya dan hamba-hamba Alloh, sebagai pelaksanaan dari sabda Nabi —shollallohu ‘alaihi wa sallam–,
الدين النصيحة قلنا لمن يا رسول الله قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama adalah nasihat” Kami (para sahabat) bertanya, kepada siapa wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Kepada Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada umumnya kaum muslimin.” (Riwayat Muslim)

Lanjutkan membaca “Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 1/2)”

Aqidah, dakwah, Manhaj

KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH (2)

Ini adalah kelanjutan dari KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH (1)

KETENTUAN KESEPULUH:

Mengambil manhaj salaf dari keseluruhan perkataan-perkataan mereka, tidak dari satuan perkataan mereka. Ketidaktelitian dalam perkara ini telah menjadikan banyak penuntut ilmu — karena semangat mereka terhadap manhaj salaf — menempatkan sesuatu yang ada pada salaf bagaikan sesuatu yang ada pada Nabi — shollallohu ‘alaih wa sallam –, sehingga mereka berhujah dengan satuan nukilan yang datang dari individu salaful ummah. Inilah perkara yang hendaknya dipahami oleh penuntut ilmu. Yaitu bahwa manhaj salaf diambil dari keseluruhan perkataan. Adapun satuannya, maka tidaklah diambil perkataan dari setiap individu dengan anggapan bahwa ia mewakili as-salaf (secara keseluruhan -pent).

Sebagai contoh, kita dapati sebagian imam telah melakukan kesalahan pada sebagian perkara. Maka kesalahannya itu tidak boleh diambil dengan anggapan bahwa itu adalah manhaj salaf. Contohnya adalah hadits “ash-shuroh”. Sebagian mereka telah salah dalam menafsirkan hadits ash-Shuroh. Maka tidak boleh dikatakan bahwa salaf berselisih pendapat tentang hadits ash-Shuroh, akan tetapi yang benar dikatakan bahwa fulan telah melakukan kesalahan. Lanjutkan membaca “KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH (2)”

Aqidah, dakwah, Manhaj

KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH (1)

Sesungguhnya tersebarnya dakwah salafiyah di berbagai penjuru dunia merupakan sebuah fenomena yang patut disyukuri. Karena dengan tersebarnya dakwah mubarokah (penuh berkah) ini berarti menunjukkan tersebarnya pula aqidah shohihah (aqidah yang benar) yang sesuai dengan aqidah pendahulu umat ini.

Di antara bentuk syukur yang hendaknya dilakukan oleh para dai atau para penyeru dakwah yang mulia ini, hendaknya mereka benar-benar memperhatikan kaidah dan ketentuan dalam menyebarkan aqidah yang shohihah ini. Karena, dengan memperhatikan akidah dan ketentuan yang benar, kebenaran yang indah ini akan mendapatkan jalannya untuk diterima hati-hati manusia. Sebaliknya, dengan tidak mengindahkan aturan tersebut, kebenaran akan dinilai sebagai kebatilan, dan kebaikan akan dinilai sebagai keburukan. Terlebih lagi, kebenaran adalah sesuatu yang berat untuk diterima, maka jangan sampai para dai lebih memperberat lagi dengan sikap mereka yang tidak mengikuti kaidah maupun ketentuan dalam berdakwah.

Berikut ini adalah sebuah ringkasan ceramah tentang “Kaidah dan Ketentuan Penyebaran Aqidah Salafiyah” yang kami ambilkan dari sebuah forum ilmiyah yang spesialis membahas tentang aqidah. ( http://www.alagidah.com/vb/showthread.php?t=2262 )

KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH
Oleh Syaikh Dr. Yusuf Muhammad Sa’iid
Ketua jurusan aqidah di Jami’ah al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah
Dengan ta’liq (komentar) dari
Syaikh al-Allamah al-Mufti Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh
Ketua Hai’ah Kibaril Ulama

Bismillahirrohmaanirrohiim… Lanjutkan membaca “KAIDAH DAN KETENTUAN PENYEBARAN AQIDAH SALAFIYAH (1)”