Akhlak Adalah Anugrah

Dari Abdullah bin Mas’ud – radhiyallahu ‘anhu – dia berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala membagi di antara kalian akhlak-akhlak kalian sebagaimana Dia membagi rezeki kalian di antara kalian.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad 275)

Maka akhlak adalah pemberian, pembagian, dan anugrah dari Allah. Maka (Allah) Yang memberi rezeki, Dia pula yang memberi akhlak.

Ibnul Qayyim – rahimahullah – dalam al-Furusiyah (hlm. 499) berkata, “Sesungguhnya akhlak adalah pemberian dari Allah. Dia memberikan apa yang Dia kehendaki dari akhlak-akhlak itu kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”

Oleh karenanya, sebagaimana dituntut dua hal yang harus ada dalam pencarian rezeki, (yaitu);
pertama: bersandar kepada Allah dan tawakal kepada-Nya,
kedua: berusaha mencari rezeki dari cara-cara yang disyariatkan dan dibolehkan.
Maka demikian pula dalam permasalahan akhlak ini, dituntut untuk bersandar kepada Allah untuk mendapatkan anugrah berupa akhlak dan adab yang mulia, disertai dengan usaha dan kesungguhan jiwa untuk mewujudkannya. Dan taufik hanyalah dengan pertolongan Allah saja.

http://al-badr.net/muqolat/3048

Download: Haramnya Ghibah (Kajian Bahasa Jawa)

Ghibah, perkara yang ringan di lisan tapi memiliki bahaya yang sangat besar. Pantaslah jika agama Islam mengharamkan ghibah melalui ajaran agamanya yang mulia nan indah ini. Berikut ini adalah rekaman kajian ilmiah berbahasa jawa yang disampaikan oleh Ustadz Abu Khonsa — hafizhohulloh — bertemakan tentang haramnya ghibah.

Judul Kajian: Haramnya Ghibah (Ngrasani)

Pembicara: al-Ustadz Abu Khonsa — hafizhohulloh —

Jenis File: MP3

Ukuran File: 8MB

Lanjutkan membaca “Download: Haramnya Ghibah (Kajian Bahasa Jawa)”

Download: Kewajiban Istri (Kajian berbahasa jawa)

Alhamdulillah..

Setelah sebelumnya telah kami unggahkan kajian bahasa jawa dengan judul kewajiban suami. Maka kami unggahkan kembali kajian bahasa jawa dengan judul kewajiban istri, masih bersama al-Ustadz Abu Khonsa –hafizhohulloh

Judul Kajian: Kewajiban Istri

Pembicara: al-Ustadz Abu Khonsa

Jenis File: MP3

Ukuran File: 15,6MB

Lanjutkan membaca “Download: Kewajiban Istri (Kajian berbahasa jawa)”

Download: Kajian Kewajiban Suami (bhs.jawa)

Alhamdulillah…

Akhirnya bisa kami unggahkan sebuah kajian ilmiah berbahasa jawa yang disampaikan oleh Ust. Abu Khonsa – hafizhohulloh – di studio Radio Suara Quran. Semoga Kajian ini bermanfaat bagi kita semua, terutama untuk para orang tua kita yang lebih bisa menerima dengan bahasa Jawa ketimbang bahasa Indonesia.

Judul Kajian: Kewajiban Suami

Pembicara: Ust. Abu Khonsa

Lanjutkan membaca “Download: Kajian Kewajiban Suami (bhs.jawa)”

Download (e-book): Sifat Wanita Shalihah

Bagi seorang laki-laki shalih, mendapatkan seorang wanita shalihah sebagai pendamping hidupnya adalah sebuah kenikmatan yang sangat berharga. Dengannya, dia akan mendapatkan ketenangan dan ketentraman hatinya. Bersamanya, dia akan menegakkan agama dalam rumah tangganya. Mereka akan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa, saling membantu untuk mewujudkan tujuan hidup manusia; beribadah kepada Allah ta’ala. Kehormatan diri pun akan bisa terjaga dengan hidup bersamanya. Dan darinya, dia akan berkesempatan memiliki keturunan yang shalih pula.

Karena banyaknya keutamaan yang ada pada diri seorang wanita shalihah, maka tidak heran jika Rasulullah —shollallohu ‘alaihi wa sallam— menyifati para wanita shalihah sebagai perhiasan dunia yang paling baik. Beliau —shollallohu ‘alaihi wa sallam— bersabda,
Lanjutkan membaca “Download (e-book): Sifat Wanita Shalihah”

Antara Keluhan Orang yang Berilmu dan yang Jahil

Seorang jahil (orang yang bodoh) akan mengeluhkan (mengadukan) Alloh kepada manusia. Ini adalah puncaknya kebodohan akan siapa yang dikeluhkan dan siapa yang disampaikan keluhan kepadanya. Jika dia mengenal Robbnya, dia tentu tidak akan mengeluhkan-Nya. Dan jika dia mengetahui manusia, dia tentu tidak akan mengeluh kepada mereka. Sebagian salaf melihat seseorang yang mengeluhkan kekurangan dan kebutuhannya kepada orang lain. Maka dia (salaf) berkata, “wahai orang ini, Demi Alloh, engkau hanyalah mengadukan (Dzat) Yang merahmatimu kepada orang yang tidak merahmatimu.”

Tentang hal ini, dikatakan dalam syair,

وَإِذاَ شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّماَ           تَشْكُو الرَّحِيْمَ إِلَى الَّذِي لاَ يَرْحَمُ

Jika engkau mengeluh kepada anak adam, sesungguhnya

Kau keluhkan ar-Rahiim (Alloh Yang Maha Penyayang) kepada yang tidak menyayangi

Seorang ‘arif (yang mengenal Alloh), hanya akan mengeluh kepada Alloh saja. Dan orang yang paling ‘arif adalah orang yang menjadikan pengaduannya kepada Alloh disebabkan karena dirinya bukan karena manusia. Sehingga dia mengeluhkan atau mengadukan penyebab penguasaan manusia atas dirinya. Dia melihat kepada firman Alloh

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [as-Syuro (42): 30]

Dan firman-Nya,

وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisa (4): 79]

Dan firman-Nya,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Ali ‘Imron (3): 165]

Maka berarti ada tiga tingkatan,

Paling rendah, engkau mengadukan Alloh kepada makhluk.

Paling tinggi, engkau mengadukan dirimu kepada-Nya.

Dan yang pertengahan, engkau mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.

 

[Diterjemahkan oleh alBamalanjy dari “al-Fawa`id” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah –rohimahulloh-, hal. 85, cet. Darul Aqidah]