Haruskah Sama Antara Dunia dan Akhirat?

Alhamdulillah, banyak manusia yang menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara. Mereka tahu bahwa mereka akan kembali ke kampung akhirat, sehingga mereka pun melakukan usaha mengumpulkan bekal menuju akhirat.

Hanya saja, di antara sekian banyak manusia yang sadar atau mengetahui akan hal ini, masih ada saja yang hatinya tertawan dengan dunia dan perhiasannya. Sehingga, seolah-olah dunia menjadi tujuan utama mereka, padahal mereka tahu dan sadar bahwa mereka akan kembali ke akhirat. Memang mereka sudah melakukan usaha berbekal menuju akhirat, namun karena mereka salah memosisikan akhirat terhadap dunia, mereka tetap saja lebih mengutamakan dunia atas akhirat.

Sebagian orang lain yang memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap khidupan akhirat berusaha menjadikan akhirat seimbang (sama persis) dengan dunia. “Kita hidup itu harus seimbang antara dunia dan akhirat. Dunia iya, akhirat juga iya, fifty-fifty (50% – 50%)” demikian seolah-olah prinsip hidupnya berbicara.

Pembaca yang dirahmati Allah, jika kita telah mengetahui tidak benarnya prinsip hidup yang melebih utamakan dunia atas akhirat, lalu bagaimana dengan prinsip hidup yang menyatakan dunia akhirat fifty-fifty?

Tidak diragukan lagi bahwa manusia yang hidup di dunia juga butuh kepada perkara-perkara duniawi. Seorang manusia tidak mungkin menghindari perkara-perkara duniawi. Karena setiap manusia butuh kepada makanan, minuman, pakaian, pemenuhan kebutuhan biologis dan hal-hal lain yang merupakan kebutuhan manusia di dunia ini. Akan tetapi hakikat akan kebutuhan manusia ini tidak bisa otomatis menjadi dasar disamakannya dunia dengan akhirat dalam satu derajat, sehingga mudah saja mengatakan dunia akhirat fifty-fifty.

Seorang berakal yang mampu membandingkan antara dua hal berbeda dan mampu menilai mana yang lebih utama dari keduanya tentu akan lebih mengutamakan akhirat dari pada dunia. Silahkan kita lihat bersama-sama perbedaan yang mencolok antara dunia dan akhirat.

Dunia adalah tempat yang sementara, sedangkan akhirat adalah tempat yang abadi. Allah ta’ala berfirman,
وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (al-Kahfi: 45)

Kenikmatan dunia penuh dengan kekurangan, sedangkan kenikmatan akhirat adalah kenikmatan yang sempurna. Tidakkah kita perhatikan, bahwa orang yang mendapatkan kenikmatan di dunia pasti juga mendapatkan kesusahan baik sebelumnya, atau yang menyertainya, atau mungkin yang datang setelahnya. Tidak ada satu pun kenikmatan di dunia ini yang murni dari kesusahan. Adapun kenikmatan yang diperoleh di akhirat adalah kenikmatan murni yang tidak diiringi sesuatu hal yang dibenci.

Alangkah indah perkataan Malik bin Dinar – rahimahullah – , “Seandainya dunia terbuat dari emas yang hanya sementara sedangkan akhirat terbuat dari tembikar namun dia abadi, maka yang sewajibnya adalah lebih mengutamakan tembikar yang abadi dari pada emas yang sementara. Lalu bagaimana lagi padahal akhirat adalah emas yang abadi sedangkan dunia adalah tembikar yang sementara?!”

Terlebih lagi jika kita menyadari bahwa dunia hanyalah bagaikan sebuah jalan, sedangkan akhirat adalah tujuannya. Bukankah kita semua pasti meninggal dunia, dan akhirat adalah kampung terakhir kita, tempat tinggal kita yang sesungguhnya, sedangkan tempat kita di akhirat sangat tergantung dengan amalan kita di dunia ini. Oleh karena itu Rasulullah l bersabda,
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ
“Jadilah engkau di dunia ini bagaikan orang asing atau bagaikan orang yang dalam perjalanan.” (Riwayat al-Bukhari)

Dan kalau kita menilik kepada nash-nash dalam al-Quran maupun hadits-hadits Nabi n dengan tadabbur (perenungan) yang sebenar-benarnya, tentu saja kita tidak akan mendapati dalil yang mendukung prinsip fifty-fifty untuk dunia akhirat.

Mengutamakan akhirat dari dunia bukan berarti tidak mengambil urusan dunia sama sekali. Bahkan dalam rangka mengutamakan akhirat ini, kita perlu mengambil dunia. Hanya saja kita tidak mengambil dunia dengan berlebih-lebihan sehingga melalaikan akhirat. Cukuplah kita ambil seperlunya yang kita butuhkan sebagaimana kebutuhan seorang musafir dalam perjalanannya.

Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa hadits Nabi – shallallahu ‘alaihi wa sallam – di atas mengisyaratkan agar kita mengutamakan sikap zuhud terhadap dunia dan mengambil bekal dan kecukupan darinya. Sebagaimana seorang musafir tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa menyampaikan kepada tujuan perjalanannya, maka demikian pula seorang mukmin di dunia ini tidak membutuhkan lebih dari apa yang bisa menyampaikannya kepada tujuan. Disebutkan pula bahwa hendaknya seorang mukmin memosisikan dirinya sebagaimana orang asing (di negeri asing), sehingga hatinya tidak tertambat pada sesuatu pun yang ada di negri asing itu, bahkan hatinya selalu tertambat pada negri tempat kembalinya.

Untuk itu, hendaknya dunia yang telah ada kita gunakan dalam perkara yang bisa bermanfaat bagi akhirat kita, dan hendaknya kita memiliki niat yang baik untuk kehidupan akhirat dalam berbagai urusan dunia kita.

4 thoughts on “Haruskah Sama Antara Dunia dan Akhirat?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s