Sikap Hidup Seorang Mukmin

Manusia hidup di dunia ini pasti mendapatkan berbagai kesulitan dan kesusahan. Ini adalah ketetapan dari Allah, karena Dia telah berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (al-Balad: 4)

Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha bijaksana, menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sangat agung. Oleh karena itulah, Allah juga membekali manusia dengan berbagai alat dan kemampuan untuk bisa menghadapi kesulitan dan kesusahan tersebut.

Hidup adalah ujian

Ketetapan Allah ini menunjukkan bahwa kehidupan ini adalah ujian bagi manusia. Karena dengan adanya berbagai kesusahan ini, manusia akan terklasifikasi berdasarkan sikap mereka dalam menghadapinya dan akibat dari sikap tersebut. Di antara mereka ada yang mendapatkan kecintaan Allah akan sikapnya, sedangkan yang lain mendapatkan kemurkaan. Allah ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ (٢)

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)

Sikap-sikap manusia

Dalam ujian hidup ini, setiap manusia pasti memiliki harapan untuk mendapatkan manfaat atau menolak bahaya. Ini adalah suatu kewajaran, bahkan orang yang tidak berharap demikian perlu ditanyakan akal sehatnya. Namun dalam mewujudkan harapan ini manusia memiliki sikap dan jalan yang berbeda-beda, sesuai dengan keyakinan dan akidah mereka. Maka di sinilah harus kita perhatikan apakah sikap kita berdasarkan akidah yang benar atau yang keliru? Jika berdasarkan akidah yang benar maka benarlah sikap yang kita lakukan dan jalan yang kita tempuh. Dan jika sebaliknya, bersegeralah kita mencari jalan kebenaran itu.

Secara global, sikap manusia terbagi dalam tiga kelompok:

Pertama, orang yang meyakini bahwa manusia tidak memiliki usaha. Dia menganggap bahwa manusia hanyalah bagaikan kapas tertiup angin, tidak memiliki kehendak dan usaha. Dalam hal ini, orang ini akan bermalas-malasan dalam berusaha menggapai maslahat (kebaikan) dan menolak bahaya. Sikap ini jelas bertentangan dengan firman Allah ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’d: 11)

Kedua, orang yang bersandar penuh kepada usaha dan kemampuan dirinya. Dia menyangka bahwa datangnya kebaikan dan tertolaknya bahaya tergantung mutlak kepada usaha yang dilakukan. Maka orang seperti ini berarti telah meniadakan kemampuan Allah dalam menetapkan takdir-takdir. Alangkah sombongnya orang semacam ini, padahal jika Allah menimpakan bencana kepadanya, dia tidak akan bisa mengelak.

Ketiga, orang yang berada di pertengahan antara dua golongan di atas. Dia meyakini bahwa manusia memiliki kehendak dan kemampuan untuk berusaha mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, bersamaan dengan ini dia pun menyadari bahwa usaha yang dilakukannya tetap bergantung kepada kehendak Allah. Sehingga, dalam melakukan usahanya, dia senantiasa bergantung kepada Allah. Jika berhasil usaha yang dilakukannya, dia akan memuji Allah. Jika gagal, maka dia akan introspeksi diri dan tidak merasa putus asa. Ini sangat sesuai dengan firman Allah ta’ala,

إِنَّ هَذِهِ تَذْكِرَةٌ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلا (٢٩) وَمَا تَشَاءُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا (٣٠)

“Sesungguhnya (ayat-ayat) ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) niscaya dia mengambil jalan kepada Rabbnya. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Insan: 29-30)

Perhatikan usahamu!

Setelah kita memahami sikap yang benar dalam menghadapi kehidupan, yaitu berusaha mendapatkan kebaikan dan menolak bahaya dengan tetap bergantung dan menyandarkan hasilnya hanya kepada Allah. Maka ada satu hal lain yang harus kita fahami dan perhatikan. Hendaknya, usaha yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan kecintaan dan keridhaan Allah. Dengan kata lain, usaha kita tidak bertentangan dengan syariat Allah ta’ala. Karena tentunya cita-cita tertinggi seorang muslim adalah menggapai kecintaan dan keridhaan Allah ta’ala.

Maka jangan sampai usaha kita tercampur dengan kesyirikan, kebid’ahan (perkara baru dalam agama) atau kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya n, yang kesemuanya itu dibenci oleh Allah ta’ala.

Barangkali dengan contoh akan lebih mudah bagi kita untuk memahaminya. Seorang pedagang, misalnya, agar dagangannya laris maka dia membuat jimat-jimat penglaris untuk dagangannya. Atau seorang mujahid yang berperang membela agama, namun dia menggunakan ilmu kekebalan misalnya. Maka usaha ini adalah usaha yang bercampur dengan kesyirikan.

Contoh lain, seorang ahli ibadah ingin mendapatkan pahala yang banyak dari Allah, namun dia melakukan berbagai bentuk ibadah baru yang tidak pernah disyariatkan oleh Rasulullah n. Maka ini merupakan usaha yang bercampur dengan kebid’ahan.

Contoh berikutnya, seorang pedagang menjual barang dagangannya dengan berdusta dan menutupi cela barangnya, maka ini adalah usaha yang bercampur dengan kemaksiatan.

Akhirnya, kita senantiasa memohon kepada Allah agar melapangkan hati kita untuk menerima kebenaran dan mengikutinya.

Wallahul Muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s