Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 1/2)

Oleh: Syaikh Abdurrozzaq bin Abdilmuhsin al-Badr —hafizhohumalloh

Telah sah dari Nabi —shollallohu ‘alaihi wa sallam— bahwa beliau bersabda,
إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الفِتَنَ
“Sesungguhnya orang yang bahagia adalah yang dijauhkan dari berbagai fitnah.” (Riwayat Abu Daud dan yang lain, dari al-Miqdad bin al-Aswad —rodhiyallohu ‘anhu)

Disinilah orang-orang yang memiliki kecemburuan dan menginginkan kebaikan, yang menghendaki keselamatan untuk diri mereka dan menginginkan ketinggian bagi umat mereka, umat Islam, bertanya-tanya tentang bagaimana menggapai kebahagiaan ini. Bagaimana cara meraih kebahagiaan itu, bagaimana menghindari berbagai fitnah dan bagaimana seorang muslim bisa dijauhkan darinya, sehingga dia bisa selamat dari berbagai keburukan dan bahayanya. Karena seorang muslim yang menginginkan kebaikan dan memiliki kecemburuan tidak menginginkan fitnah baik untuk dirinya maupun untuk umatnya. Karena dalam hatinya pasti terdapat nasihat untuk dirinya dan hamba-hamba Alloh, sebagai pelaksanaan dari sabda Nabi —shollallohu ‘alaihi wa sallam–,
الدين النصيحة قلنا لمن يا رسول الله قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama adalah nasihat” Kami (para sahabat) bertanya, kepada siapa wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Kepada Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kepada umumnya kaum muslimin.” (Riwayat Muslim)

Sedangkan konsekuensi dari nasihat untuk diri dan orang lain adalah seorang hamba mewaspadai berbagai fitnah, berusaha sungguh-sungguh menjauhinya dan membebaskan diri darinya, tidak menjerumuskan diri kepadanya atau menjerumuskan orang lain kepadanya, serta memohon perlindungan kepada Alloh –-tabaroka wa ta’ala— dari keburukan fitnah yang lahir maupun yang batin.

Dan pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan beberapa poin penting, landasan-landasan agung dan kaidah-kaidah kokoh yang jika seorang muslim memperhatikannya dan menetapinya dia akan terbebas dari berbagai macam fitnah dengan izin Alloh —tabaroka wa ta’ala–. Kaidah-kaidah yang kokoh ini diambil dari Kitabullah dan Sunnah Nabi yang mulia –-shollallohu ‘alaihi wa sallam–.

Sesungguhnya perkara terpenting untuk menghindari fitnah dan menjauhi keburukan dan bahayanya adalah ketakwaan kepada Alloh –‘azza wa jalla– dan menetapi ketakwaan itu baik dalam kerahasiaan atau terang-terangan, dalam kesendirian ataupun ketika dilihat orang lain. Alloh –ta’ala– berfirman,
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Alloh niscaya Alloh akan menjadikan jalan keluar baginya, dan Dia akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak dia sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)
Yakni, Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dari berbagai fitnah, ujian dan keburukan di dunia maupun di akhirat.
Dan Alloh berfirman,
ومن يتق الله يجعل له من أمره يسرا
“Dan barangsiapa bertakwa kepada Alloh, Dia akan menjadikan urusannya mudah baginya.” (ath-Thalaq: 4)

Tatkala terjadi fitnah di zaman Tabi’in, datanglah beberapa orang yang menginginkan kebaikan kepada Thalq bin Habib —rohimahulloh–. Mereka berkata, “Sungguh fitnah telah terjadi, lalu bagaimana kita menghindarinya?” Dia (Thalq) berkata, “Hindarilah fitnah dengan bertakwa kepada Alloh ‘azza wa jalla.” Mereka kembali bertanya, “Jelaskan kepada kami secara global tentang ketakwaan.” Thalq berkata, “Ketakwaan kepada Alloh jalla wa ‘ala, adalah mengamalkan ketaatan kepada Alloh, di atas cahaya dari Alloh, dengan mengharap pahala dari Alloh. Dan meninggalkan kemaksiatan kepada Alloh, di atas cahaya dari Alloh, dengan merasa takut terhadap siksaan Alloh.”

Dari sini kita mengetahui ternyata ketakwaan bukanlah kalimat yang diucapkan seseorang dengan lisannya, atau klaim yang dia serukan. Akan tetapi dia adalah kesungguhan dan nasihat untuk jiwa agar taat kepada Alloh dan mendekat kepada-Nya dengan perkara yang Dia ridhai, dengan tetap melaksanakan berbagai kewajiban dan menjauhi kemaksiatan dan perkara yang haram. Siapa saja yang seperti ini sifat dan keadaannya, maka sesungguhnya dia akan mendapatkan akibat yang baik lagi terpuji, di dunia dan di akhirat.

Di antara kaidah penting untuk menjauhi fitnah adalah menetapi al-Kitab dan as-Sunnah dan berpegang teguh dengan keduanya. Karena berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah adalah jalan meraih kemuliaan, keselamatan dan keberuntungan di dunia dan akhirat.

Imam Malik, Imam Daril Hijroh (Imamnya kota Madinah) —rohimahulloh— berkata, “As-Sunnah adalah bagaikan perahu Nabi Nuh. Siapa saja yang menaikinya pasti akan selamat, dan siapa yang meninggalkannya pasti akan binasa dan tenggelam.”

Barangsiapa yang menjadikan as-Sunnah sebagai pemimpin bagi dirinya, niscaya dia akan berbicara dengan hikmah, selamat dari fitnah, dan dia akan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Telah shahih dari hadits Irbadh bin Sariyah, yang dikeluarkan dalam as-Sunan, bahwa Nabi —shollallohu ‘alaihi wa sallam–, beliau bersabda,
إنَّه من يعش منكم فسيرى اختلافًا كثيرًا فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور فإنَّ كلَّ محدثة بدعة وكلَّ بدعة ضلالة
“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, niscaya dia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyin (Para penggantiku yang lurus dan mendapat petunjuk) setelahku. Pegang ia dengan erat, dan gigitlah dengan geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama) karena semua perkara yang baru (dalam agama) adalah bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.”

Maka keselamatan akan terwujud dengan berpegang teguh dengan as-Sunnah dan menjauhi hawa bid’ah dan hawa nafsu, serta menjadikan sunnah sebagai hakim atas dirinya, dalam segala hal yang dia lakukan atau tinggalkan, dalam gerakannya atau diamnya, ketika berdiri ataupun duduk, dan dalam segala urusannya. Barangsiapa yang seperti ini keadaannya, niscaya dia akan dijaga dan dilindungi – dengan izin Alloh – dari berbagai keburukan, bencana dan fitnah. Adapun yang melepaskan tali kekang terhadap jiwa dan hawa nafsunya, maka dia berarti menyeret diri dan orang lain di antara hamba Alloh, kepada bencana dan keburukan.

Bersambung ke bagian 2 insya Alloh…

(Dialihbahasakan oleh alBamalanjy dari: Situs Syaikh Abdurrozzaq alBadr –hafizhohulloh– )

3 thoughts on “Kaidah Menjauhi Fitnah (Bag 1/2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s