Keutamaan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam

KEUTAMAAN ROSUL shollallohu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berkata, “Tatkala telah sempurna iftiqoor (kebutuhan dan kerendahan diri) yang dimiliki oleh ar-Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada Alloh subhaanahu wa ta’aalaa, maka seluruh makhluk sangat butuh kepada beliau baik di dunia maupun di akhirat. Adapun kebutuhan mereka kepada beliau di dunia, maka hal itu lebih dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman dan udara yang semuanya itu adalah penopang kehidupan badan mereka. Adapun kebutuhan mereka kepada beliau di akhirat, karena mereka akan mencari syafa’at kepada Alloh dengan para rosul agar Dia mengistirahatkan mereka dari kesusahan yang mereka alami di tempat berdiri mereka, kemudian para rosul itu menolak (tidak bisa) memberikan syafaat sehingga beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat bagi mereka. Dan beliau pulalah yang akan meminta agar pintu surga dibukakan untuk mereka.” [Lihat “al-Fawaaid” cet. Daarul ‘Aqiidah halaman 148]


PELAJARAN dan PENJELASAN

Dari apa yang dikatakan oleh al-Imaam Ibnul Qoyyim rohimahulloh di atas, bisa kita ambil beberapa pelajaran yang sangat penting, diantaranya:

1. Kesempurnaan seorang manusia diukur dengan kebutuhan, ketundukan dan kerendahan dirinya di hadapan Alloh.

Hal itu karena tujuan diciptakannya manusia dan jin adalah agar mereka beribadah kepada Alloh. Alloh berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyaat: 56]

Sedangkan ibadah memiliki arti, “Merendahkan diri kepada Alloh ta’ala dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya disertai dengan kecintaan dan pengagungan.” [Lihat “al-Qulul Mufiid ‘ala Kitabit Tauhid” karya Syaikh al-‘Utsaimin, cet. Maktabatul ilmi halaman 7]

Sehingga, semakin sempurna kebutuhan, ketundukan dan kerendahan diri seorang hamba kepada Alloh berarti semakin sempurna pula keberadaan dirinya sebagai manusia. Dan hal ini telah nampak pada diri rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.

2. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling utama dan paling sempurna.

Karena beliau telah memiliki ketundukan, kebutuhan dan kerendahan diri yang sempurna kepada Alloh. Oleh karena itu kita dapati bahwa Alloh menyebutkan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan kata ‘abdun (hamba) dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an, bahkan dalam ayat-ayat yang menunjukkan keagungan dan kemuliaan beliau. Ketika Alloh menyebutkan tentang isro` (dijalankannya) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam dari masjidil harom ke masjidil aqsho, Alloh berfirman,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا

“Maha suci Alloh yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam…” [QS. Al-Isroo: 1]

Juga ketika Alloh menyebutkan penurunan kitab al-Qur`an kepada beliau, Alloh menyebutkan beliau dengan kata tersebut, Alloh berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نزلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha tinggi dan maha agung (Alloh) yang telah menurunkan al-furqoon (al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada makhluk.” [QS. Al-Furqoon: 1]

Dan penyebutan beliau dengan kata ‘abdun (hamba) di dalam ayat-ayat ini menunjukkan bahwa beliau memiliki sifat ‘ubudiyah (penghambaan diri) kepada Alloh yang telah sempurna.

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as-Sa’dy rohimahulloh berkata, “Dan di dalam penyifatan beliau dengan ‘ubudiyah pada tempat yang agung ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa sifat paling agung yang beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam miliki adalah bahwa beliau melaksanakan ‘ubudiyah (penghambaan diri kepada Alloh) yang tidak akan mungkin disusul oleh seorang pun dari orang yang telah lewat maupun yang akan datang.” [Lihat “Taisirul Kariimirrohman” tafsir surat al-Baqoroh ayat 23]

Adapun mengenai makna ‘ubudiyah, akan bisa kita fahami insyaa Alloh dari perkataan Ibnul Qoyyim rohimahulloh ketika menjelaskan salah satu doa yang diajarkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau (Ibnul Qoyyim rohimahulloh) berkata,

“Dan dalam merealisasikan makna perkataan inni ‘abduka (aku adalah hamba-Mu) adalah menetapi ‘ubudiyah (penghambaan diri) kepada-Nya. Yaitu, merendahkan diri, tunduk dan senantiasa kembali (kepada-Nya), melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, senantiasa merasa butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, kembali kepada-Nya dalam perkara yang ditakuti dan diharapkan, hatinya tidak bergantung kepada selain-Nya, disertai dengan rasa cinta, tasa takut dan pengharapan.” [Lihat “al-Fawaaid” cet. Daarul ‘Aqiidah halaman 24]

Oleh karena kesempurnaan yang telah beliau miliki ini, maka Alloh menjadikan beliau sebagai teladan bagi hamba-hambaNya yang ingin mendapatkan rohmat dari Alloh. Alloh ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ اْلآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh.” [QS. Al-Ahzaab: 21]

3. Kebutuhan manusia terhadap Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam di dunia.

Manusia hidup di dunia ini terdiri atas jasad dan ruh. Ketika jasad butuh kepada makanan, minuman dan udara untuk menopang kehidupannya, demikian juga ruh butuh kepada penopang kehidupannya. Tatkala jasad kekurangan bahan penopang kehidupannya, maka dia akan mengalami sakit dan puncaknya adalah kematian jasad tersebut. Begitu pula jasad yang kekurangan bahan penopang kehidupannya, maka ruh itu akan mengalami sakit bahkan bisa mengalami kematian. Sakit dan kematian yang dialami oleh jasad hanya akan dialami di dunia ini, dan tidak berkonsekuensi terhadap timbulnya rasa sakit yang akan dialami jasad di akhirat kelak. Namun sakit dan kematian ruh di dunia ini, akan mengakibatkan kesakitan ruh dan jasad di akhirat kelak, rasa sakit yang lebih besar dan lebih lama dari pada rasa sakit di dunia. Dari sinilah kita ketahui bahwa kebutuhan ruh terhadap penopang kehidupannya jauh lebih besar dari pada kebutuhan jasad kepada penopang kehidupannya.

Ketika makanan, minuman dan udara adalah bahan penopang kehidupan jasad, maka tidak ada yang bisa menopang kehidupan ruh kecuali wahyu yang Alloh turunkan melalui rosulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam. Alloh ta’ala berfirman,

يُنَزِّلُ الملائكة بالروح مِنْ أَمْرِهِ على مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu) dengan perintah-Nya kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambaNya.” [QS. An-Nahl: 2]

Syaikh Muhammad al-Amiin asy-Syinqithi rohimahulloh menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Pendapat yang paling kuat tentang makna ruh dalam ayat ini, bahwa maksudnya adalah wahyu. Karena dengan wahyu, ruh-ruh manusia akan hidup sebagaimana makanan adalah penopang kehidupan jasad. Hal ini ditunjukkan oleh firman Alloh ta’ala,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al Quran) dengan perintah Kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” [QS. Asy-Syuro: 52] [Lihat “Tafsiir Adhwaa`ul Bayaan” Surat An-Nahl ayat 2]

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh menafsirkan surat Asy-Syuro` ayat 52 di atas, beliau berkata, “Dan demikianlah ketika Kami telah mewahyukan kepada para rosul sebelummu, Kami wahyukan kepadamu ruh dengan perintah Kami, yaitu al-Qur`an yang mulia ini. Dia menamakan al-Qur`an ini dengan ruh karena ruh adalah sebab hidupnya jasad, sedangkan al-Qur`an adalah sebab hidupnya hati dan ruh-ruh manusia. Begitu pula kemaslahatan dunia dan agama akan hidup dengan al-Qur`an. Karena di dalam al-Qur`an terdapat kebaikan yang banyak dan ilmu yang melimpah.” [Lihat Taisirul Karimir Rohman tafsir surat Asy-Syuro` ayat 52]

Dan wahyu al-Qur`an ini Alloh sampaikan kepada rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam agar dia menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepadanya. Alloh ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذكر لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” [QS. An-Nahl: 44]

Syaikh Muhammad al-Amiin asy-Syinqithi rohimahulloh menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Dan dalam ayat ini Alloh menyebutkan dua hikmah di antara hikmah-hikmah diturunkannya al-Qur`an kepada nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Yang pertama, agar dia menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka di dalam kitab ini yang berupa perintah-perintah, larangan-larangan, janji, ancaman dan lainnya…” [Lihat Adhwaa`ul Bayaan tafsir surat An-Nahl ayat 44]

Maka tatkala wahyu ini diturunkan kepada rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan Alloh telah mengangkat beliau sebagai penjelas wahyu ini, berarti tidak ada jalan lain untuk mengambil manfaat dari wahyu tersebut kecuali melalui perantaraan beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu di akhir surat Asy-Syuro ayat 52 Alloh berfirman (yang artinya), “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” Kemudian dalam surat Al-Qoshosh ayat 50, dengan tegas Alloh menegaskan sesatnya orang-orang yang tidak mengikuti rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” [QS. Al-Qoshosh: 50]

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di rohimahulloh menafsirkan ayat di atas, beliau berkata, “Maka jika mereka tidak menjawabmu, yaitu tidak bisa mendatangkan suatu kitab yang lebih lurus dari keduanya (Taurat dan al-Qur`an), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka. Maksudnya, ketahuilah bahwa mereka tidak mau mengikutimu bukan karena memegangi kebenaran ataupun petunjuk yang mereka ketahui, akan tetapi hal itu hanyalah semata-mata mengikuti hawa nafsu mereka saja. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapati petunjuk dari Alloh sedikitpun? Maka orang ini adalah manusia yang paling sesat, dimana telah nampak kepadanya petunjuk dan jalan yang lurus yang akan menghantarkan dia kepada Alloh dan negeri kemuliaannya namun dia tidak menoleh dan menghadap sedikitpun. Akan tetapi ketika hawa nafsunya mengajak dia untuk menempuh jalan yang menghantarkan kepada kebinasaan dan kecelakaan, dia mengikutinya dan meninggalkan petunjuk. Lalu adakah orang yang lebih sesat dari orang yang seperti ini sifatnya?” [Lihat Taisirul KariimirrohmanSurat Al-Qoshosh ayat 50]

Beliau rohimahulloh juga berkata, “Dalam firman Alloh, ‘Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka).’ Di sini terdapat dalil bahwa setiap orang yang tidak menyambut rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan dia mengambil pendapat yang menyelisihi pendapat rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya dia tidaklah mengikuti petunjuk akan tetapi hanyalah mengikuti hawa nafsu.” [Lihat Taisirul KariimirrohmanSurat Al-Qoshosh ayat 50]

Dari sini menjadi jelas bagi kita – walhamdu lillaah – bahwa hidup kita di dunia ini sangat butuh kepada petunjuk yang dibawa oleh rosulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.

4. Syafa’at ‘Uzhma, khusus bagi rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini berdasarkan hadits panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Imam Muslim dalam kitab shohih keduanya, dari Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu beliau berkata, Dahulu kami pernah bersama nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam suatu undangan (walimah), dan dihidangkan kepada beliau paha (kambing), maka beliau pun menggigit satu gigitan darinya dan bersabda,

“Aku adalah pemimpin manusia pada hari kiamat, tahukah kalian kenapa? Alloh akan mengumpulkan seluruh manusia dari yang pertama sampai yang terakhir pada satu dataran yang luas, seorang manusia akan mampu melihat semuanya dan seruan seorang manusia akan didengar oleh semuanya, sedangkan matahari didekatkan kepada mereka. Maka sebagian manusia akan berkata, ‘Tidakkah kalian lihat keadaan kalian, tidakkah kalian lihat apa yang menimpa kalian, tidakkah kalian lihat orang yang bisa menjadi syafaat bagi kalian kepada Robb kalian?’ Maka sebagian manusia menjawab, bapak kalian, yaitu Adam. Maka mereka pun mendatangi beliau dan berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia, Alloh menciptakanmu dengan tanganNya dan meniupkan kepadamu di antara ruh-(ciptaan)Nya, Dia perintahkan para malaikat untuk sujud kepadamu dan Dia telah menempatkanmu disurga. Maukah engkau menjadi syafaat bagi kami kepada Robbmu, tidakkah engkau melihat keadaan kami dan apa yang telah menimpa kami?’ Maka Adam menjawab, ‘Robbku telah marah dengan kemarahan yang tidak ada bandingannya sebelum ini maupun sesudahnya. Dia telah melarangku dari suatu pohon namun aku bermaksiat kepadaNya, diriku diriku, pergilah kepada selainku, pergilah kepada Nuh.’ Maka mereka pun pergi kepada Nuh dan berkata, ‘Wahai Nuh, engkau adalah rosul pertama yang diutus kepada penduduk bumi, Alloh telah menyebutmu sebagai hamba yang banyak bersyukur, tidakkah engkau melihat keadaan kami dan apa yang telah menimpa kami? Maukah engkau menjadi syafaat bagi kami kepada Robbmu?’ Lalu Nuh menjawab, ‘Pada hari ini Robbku telah marah dengan kemarahan yang tidak ada bandingannya sebelum ini maupun sesudahnya. Diriku diriku, datangilah nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.’ Maka mereka pun mendatangiku. Lalu aku sujud di bawah ‘arsy. Dan diserulah, wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, berikanlah syafaat niscaya syafaatmu akan diterima, dan mintalah engkau niscaya engkau akan diberi.” [Riwayat Bukhori (3340), (4712) dan Muslim (193)]

Kemudian… ketahuilah, bahwa ahlus sunnah wal jama’ah menetapkan adanya syafa’at dengan berbagai macam jenisnya, yang memang ditetapkan oleh Alloh dan RosulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur`an dan sunnah. Seperti syafa’at Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam di atas, syafa’at untuk para pelaku dosa besar dan syafa’at lainnya yang ditetapkan dengan dalil dari al-Qur`an dan sunnah. Namun ahlus sunnah juga mengingkari syafa’at-syafa’at yang diklaim oleh beberapa orang, karena bertentangan dengan al-Qur`an dan sunnah.

Sikap ahlus sunnah ini adalah sikap pertengahan dalam masalah syafa’at, sebagaimana dalam masalah-masalah lainnya. Ahlus sunnah menyelisihi kelompok-kelompok yang bersikap tafrith (meremehkan) dalam menetapkan syafa’at, sehingga mereka menolak segala jenis syafa’at atau sebagiannya. Juga menyelisihi kelompok-kelompok yang ifroth (berlebih-lebihan) dalam menetapkan syafa’at, sehingga mereka meminta syafa’at kepada selain Alloh.

Dalam hal ini para ulama telah menjelaskan, bahwa syafa’at terbagi menjadi dua,

  1. Syafa’at mutsbatah (Syafa’at yang ditetapkan keberadaannya).
  2. Syafa’at manfiyyah (Syafa’at yang ditolak keberadaannya).

Dalam risalah Qowa’idul Arba’ Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahulloh berkata, “Dan syafa’at itu ada dua macam, syafa’at manfiyyah dan syafa’at mutsbatah.

Syafa’at manfiyyah adalah yang diminta dari selain Alloh, dalam perkara yang hanya dimampui oleh Alloh. Dalilnya adalah firman Alloh,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, berinfaklah kalian dari sebagian yang telah Kami rizkikan kepada kalian, sebelum datang suatu hari yang tidak ada jual-beli padanya, tidak pula persahabatan dan tidak pula syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zhalim.” [QS. Al-Baqoroh: 254]

Dan syafa’at mutsbatah adalah yang diminta dari Alloh. Sehingga orang yang memberi syafa’at adalah orang yang diberi kemuliaan dengan syafa’at, sedangkan orang yang diberi syafa’at untuknya adalah orang yang Alloh meridhoi perkataan dan perbuatannya, setelah izin dariNya. Sebagaimana Dia berfirman,

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang memberi syafa’at di sisiNya kecuali dengan izinNya.” [QS. Al-Baqoroh: 255] [Lihat Qowa’idul Arba’, kaidah kedua]

Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh rohimahulloh berkata, “Kesimpulannya, bahwa syafa’at mutsbatah adalah yang terpenuhi padanya syarat-syarat syar’iyah, dan syarat yang paling penting adalah dua syarat, izin dan ridho. Yaitu, izin Alloh kepada orang yang akan memberikan syafa’at dan ridhoNya kepada orang yang diberikan syafa’at untuknya.” [Syarh Qowa’idul Arba’, Syaikh Sholih bin Abdul Aziz Alu Syaikh rohimahulloh]

Dan perhatikanlah hadits tentang syafa’at ‘uzhma di atas, Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam meminta kepada Alloh agar syafa’atnya diterima. Sebelum beliau meminta, beliau senantiasa sujud sehingga Alloh mengizinkan kepada beliau untuk memberikan syafa’at. Hal ini, karena syafa’at adalah mutlak milik Alloh ta’aalaa. Alloh berfirman,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Katakanlah, hanyalah milik Alloh syafa’at itu seluruhnya, hanyalah milikNya kerajaan langit dan bumi, kemudian hanya kepadaNya kalian akan dikembalikan.” [QS. Az-Zumar: 44]

5. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah yang pertama kali meminta agar dibukakan pintu surga, sehingga ahli surga pun memasukinya.

Syaikuhl Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh berkata, “Orang pertama yang minta dibukakan pintu surga adalah Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan umat yang pertama kali masuk surga adalah umat beliau.” [al-‘Aqidah al-Wasithiyyah]

Dalilnya adalah, hadits shohih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik rodhiyallohu ‘anhu bahwa Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ مَنْ أَنْتَ فَأَقُولُ مُحَمَّدٌ فَيَقُولُ بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ ِلأَحَدٍ قَبْلَكَ

“Pada hari kiamat nanti, aku akan mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Lalu penjaga surga bertanya, siapa anda? Maka aku pun menjawab, Muhammad. Lalu dia berkata, karena engkaulah aku diperintahkan agar tidak membuka (pintu surga) untuk siapapun sebelum engkau.” [Riwayat Muslim (197)]

Wallohu a’lam, semoga Alloh menunjukki kita untuk meniti jalan RosulNya yang mulia shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengumpulkan kita bersama Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya rodhiyallohu ‘anhum di surgaNya kelak.

وصلى الله وسلم على نبينا وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

3 thoughts on “Keutamaan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s