WASIAT ABU DARDA rodhiyallohu ‘anhu (bagian 5 dari 5 tulisan)

WASIAT KE EMPAT

Di antara perkataan Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, suatu ketika beliau melewati seseorang yang telah berbuat dosa dan disekitarnya orang-orang mencelanya. Maka Abu Darda yang mengetahui bagaimana mengobati jauhnya seseorang dari agama, bagaimana mengobati orang yang bermaksiat dan bagaimana mengobati hati yang sakit, beliau berkata kepada mereka (orang-orang yang mencela),

“Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapati dia berada di dalam jurang yang sangat dalam, apakah kalian akan menyelamatkannya?” Mereka menjawab, ‘Tentu!’. Lalu beliau berkata, “Maka pujilah Alloh yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.”

“Pujilah Alloh yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.” Lihatlah perumpamaan yang beliau sampaikan, bahwa orang-orang yang beriman jika mendapati seseorang telah melakukan suatu dosa, maka mereka tidak meninggalkannya. Beliau memberikan perumpamaan seperti seorang yang berada di dalam jurang, di dalam jurang yang dalam dan tidak mendapati seorang penyelamat pun. Lalu apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang beriman terhadap saudara mereka yang terjerumus ke dalam perkara yang membinasakan? Apakah mereka akan mencelanya dan mengatakan, kenapa kamu masuk ke dalam jurang ini? Kenapa kamu menyebabkan dirimu seperti ini, dan seterusnya? Tidak, bahkan orang-orang yang beriman akan berusaha menolongnya dan bersungguh-sungguh untuk menolongnya.

Jika demikian, maka perkara negativ (perkara yang buruk) itulah yang dicela. Hanya saja celaan terhadap pelaku kemaksiatan tidak dibolehkan oleh syariat, akan tetapi kita memintakan hidayah kepada Alloh untuk saudara-saudara kita dan kita memuji Alloh yang telah menyelamatkan kita. Kemudian, kita berusaha untuk menyelamatkan mereka dari keburukan dosa dan maksiat, karena mereka tidaklah berbuat dosa melainkan karena menjadi mangsa makarnya iblis, musuh Alloh dan musuh kita.

Maka wasiat ini wahai kaum mukminin, adalah wasiat yang agung. Jika engkau melihat seseorang terjerumus dalam maksiat, maka engkau harus mengerahkan tali (pertolongan) untuknya. Wahai saudara-saudara sekalian, jika kita memperhatikan zaman kita sekarang ini, kita mendapati bahwa kebanyakan manusia ketika mendengar orang lain melakukan maksiat, engkau akan melihatnya mengatakan orang ini telah melakukan ini dan itu, dia pergi bersafar dan melakukan ini dan itu, keluarga ini seperti ini dan itu, engkau melihatnya mengkritik dan mencela dengan keras, bahkan mungkin mengolok-oloknya, semoga Alloh melindungi kita. Jika engkau bertanya kepadanya, apa yang telah engkau lakukan untuk saudaramu dengan meninggalkannya bersama dosa-dosa ini? Dia akan menjawab, aku belum melakukan sesuatupun.

Jika demikian, berarti ini juga termasuk salah satu dari wasilah syaithon (untuk menyesatkan manusia). Karena Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكَهُمْ

“Jika seseorang berkata (untuk mencela dan merendahkan), ‘manusia telah binasa’, maka dia berarti membinasakan mereka.” [HR. Muslim dan Malik]

Yakni, dia dengan keadaannya (meninggalkan dan mencela pelaku kemaksiatan-pen) itu menjadi sebab binasanya mereka (pelaku kemaksiatan-pen). Dan Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam melarang kita menyampaikan segala sesuatu yang kita dengar. Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ» أَوْ قَالَ «أَحَدُ الْكَاذِبِيْنَ»

“Barangsiapa menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar, berarti dia adalah salah satu dari dua pendusta.” Atau beliau bersabda, “salah satu dari para pendusta.” [Demikian hadits yang disampaikan oleh Syaikh, adapun lafadz dalam riwayat Muslim adalah, ‘Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika dia menyampaikan segala sesuatu yang dia dengar.’ Wallohu a’lam –pen]

Maka kita harus berusaha untuk memperbaiki kesalahan, menasihati orang yang berbuat dosa, menyembunyikan dosa-dosa (tidak menyebarkannya-pen) dan menyebarluaskan kebaikan-kebaikan. Jika kita melihat seseorang melakukan kebaikan, hendaknya kita mengatakan, ‘dia telah melakukan kebaikan ini dan itu.’ Maka dengan demikian kebaikan akan tersebar dan orang-orang akan saling meneladani dalam hal kebaikan. Adapun jika kita menyebarkan keburukan, maka orang-orang akan menganggapnya enteng. Misalnya, seseorang mengatakan, fulan telah melakukan maksiat ini, sedangkan dia telah melakukan ini dan dia telah melakukan ini. Maka orang akan menyangka bahwa keburukan lebih banyak dari pada kebaikan, sehingga dia pun menganggap enteng suatu keburukan dan akhirnya melakukannya.

Semoga Alloh merahmati dan meridhoi Abu Darda, memberi balasan kepada beliau dengan balasan yang baik dari sahabat-sahabatnya dan umat setelahnya.

الحمد لله رب العالمين

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s