Archive for the ‘Tazkiyatun nafs’ Category
PENYAKIT HATI DAN OBATNYA (e-book)
Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tentu akan memperhatikan amalan-amalannya. Dia akan senantiasa berusaha memperbagus amalan-amalannya, sehingga dia benar-benar ditulis oleh Allah sebagai orang yang bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepadanya.
Maka ketahuilah, – semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebaikan – bahwa semua kebaikan bergantung kepada hati yang ada dalam dada. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad pun akan menjadi baik. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh jasad pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Riwayat al-Bukhari (1/19) dan Muslim (1219) dari Nu’man bin Basyir]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani – rohimahulloh – berkata,
“Beliau mengkhususkan hati dengan hal tersebut karena hati adalah pemimpin badan. Dengan baiknya pemimpin, maka rakyat akan menjadi baik, dengan rusaknya pemimpin, rakyat pun menjadi rusak. Dan dalam hadits ini terdapat peringatan untuk mengagungkan kedudukan hati dan anjuran untuk memperbaikinya…” [Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Iman Bab Fadhli Man Istabra`a Lidinihi]
Untuk lebih mengenal tentang hati, penyakit dan obatnya, silahkan download artikel berikut di sini.
Semoga bermanfaat…
PERHATIKAN AMALAN HATI
Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih – hafizhohulloh -.
الحمد لله والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، أما بعد
Sesungguhnya amalan teragung yang hendaknya sangat diperhatikan oleh seorang muslim, lebih khusus seorang penuntut ilmu, adalah amalan-amalan hati. Karena hati adalah porosnya amalan badan. Oleh karena itulah Nabi - shollallohu ‘alaihi wa sallam - bersabda,
إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى
“Sesungguhnya amalan-amalan itu dengan niat-niat, dan seseorang hanyalah mendapatkan yang dia niatkan.”
Dan para ulama pun telah memberikan perhatian terhadap amalan-amalan hati. Mereka telah menulis berbagai karya tulis tentangnya. Maka sudah selayaknya bagi seorang penuntut ilmu untuk melihat dan memperhatikan hatinya, karena sebagaimana sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam -
إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب
“Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, jika baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, dia adalah hati.”
Baca entri selengkapnya »
PENGARUH DOSA DAN MAKSIAT
Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih -hafizhohulloh-
Alhamdulillah, Robb penguasa alam semesta, Yang maha pengasih dan maha penyayang, Yang menguasai hari pembalasan, sedangkan akibat (yang baik di akhirat) adalah untuk orang-orang yang bertakwa. Tidak ada permusuhan kecuali kepada orang-orang yang zhalim. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga Alloh memberikan sholawat, salam dan berkah kepada beliau, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari yang dijanjikan dan diancamkan. Amma ba’du:
Wahai kaum muslimin, bertakwalah kepada Alloh ta’ala yang mengetahui rahasia dan yang nampak dari kalian, dan mengetahui apa yang kalian usahakan.
Sesungguhnya, dosa-dosa dan maksiat memiliki berbagai pengaruh yang sangat buruk dan hukuman-hukuman di dunia dan di akhirat. Hal itu telah dikumpulkan oleh Ibnul Qoyyim rohimahulloh dalam kitab “al-Jawabul Kafi Liman Sa`ala ‘anid Dawa`isy Syafi”
Baca entri selengkapnya »
Antara Keluhan Orang yang Berilmu dan yang Jahil
Seorang jahil (orang yang bodoh) akan mengeluhkan (mengadukan) Alloh kepada manusia. Ini adalah puncaknya kebodohan akan siapa yang dikeluhkan dan siapa yang disampaikan keluhan kepadanya. Jika dia mengenal Robbnya, dia tentu tidak akan mengeluhkan-Nya. Dan jika dia mengetahui manusia, dia tentu tidak akan mengeluh kepada mereka. Sebagian salaf melihat seseorang yang mengeluhkan kekurangan dan kebutuhannya kepada orang lain. Maka dia (salaf) berkata, “wahai orang ini, Demi Alloh, engkau hanyalah mengadukan (Dzat) Yang merahmatimu kepada orang yang tidak merahmatimu.”
Tentang hal ini, dikatakan dalam syair,
وَإِذاَ شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّماَ تَشْكُو الرَّحِيْمَ إِلَى الَّذِي لاَ يَرْحَمُ
Jika engkau mengeluh kepada anak adam, sesungguhnya
Kau keluhkan ar-Rahiim (Alloh Yang Maha Penyayang) kepada yang tidak menyayangi
Seorang ‘arif (yang mengenal Alloh), hanya akan mengeluh kepada Alloh saja. Dan orang yang paling ‘arif adalah orang yang menjadikan pengaduannya kepada Alloh disebabkan karena dirinya bukan karena manusia. Sehingga dia mengeluhkan atau mengadukan penyebab penguasaan manusia atas dirinya. Dia melihat kepada firman Alloh
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [as-Syuro (42): 30]
Dan firman-Nya,
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisa (4): 79]
Dan firman-Nya,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Ali ‘Imron (3): 165]
Maka berarti ada tiga tingkatan,
Paling rendah, engkau mengadukan Alloh kepada makhluk.
Paling tinggi, engkau mengadukan dirimu kepada-Nya.
Dan yang pertengahan, engkau mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.
[Diterjemahkan oleh alBamalanjy dari “al-Fawa`id” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah –rohimahulloh-, hal. 85, cet. Darul Aqidah]
SEBAB KURANGNYA RASA SYUKUR
Alloh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmatNya kepada mereka. Alloh ‘Azza min Qo`il berkata,
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا
“Dan seandainya kalian menghitung nikmat Alloh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya.” (an-Nahl: 18)
Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh dengan cara yang dituntut. Karena orang yang tidak mampu menghitung nikmat Alloh, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?
Baca entri selengkapnya »
SEBAB LAPANG DADA
SEBAB LAPANG DADA
dan penjelasan bahwa nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memiliki kesempurnaan lapang dada
Sebab terbesar untuk kelapangan dada adalah tauhid. Kelapangan dada seseorang tergantung pada kesempurnaan, kekuatan dan pertambahan tauhid.
Allah ta’ala berfirman,
أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” [Az-Zumar: 22]
MERASA CUKUP DENGAN ALLOH
MERASA CUKUP DENGAN ALLOH
(al-Imaam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh)
Jika manusia merasa cukup dengan dunia, maka hendaknya engkau merasa cukup dengan Alloh. Jika mereka berbangga dengan dunia, maka berbanggalah engkau dengan Alloh. Jika mereka merasa tenang dengan orang-orang yang mereka cintai, maka jadikanlah ketenanganmu dengan Alloh. Jika mereka berusaha mengenal dan mendekati raja-raja dan para pembesar mereka untuk meraih kemuliaan dan derajat yang tinggi, maka usahakanlah mengenal dan mencintai Alloh niscaya engkau mendapatkan puncak kemuliaan dan derajat yang tinggi.
