alBamalanjy

Berpegang Dengan al-Qur’an & as-Sunnah Menurut Pemahaman Salaful Ummah

Archive for the ‘Aqidah’ Category

PELAKU MAKSIAT TIDAK KEKAL DI NERAKA

with 2 comments

Oleh : Syaikh Abdulaziz bin Baz - rohimahulloh -

Pertanyaan:

Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawahnya, bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Dia juga berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sungguh Aku benar-benar Maha pengampun terhadap orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian dia menerima petunjuk.”
Apakah ada kontradiksi antara kedua ayat ini? Lalu apa yang dimaksud dengan “dosa yang di bawahnya, bagi sapa yang Dia kehendaki?”
Dari A-A-Z, di Jedah

Jawaban: Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

26 Oktober 2009 at 9:21 am

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan , , ,

PERKATAAN, ‘Fulan berpindah ke sisi Allah’

with 2 comments

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak – hafizhohulloh.

Pertanyaan:
Apa hukum perkataan orang-orang, “Fulan telah berpindah ke sisi (jiwaar) Robbnya?”

Jawaban:
Alhamdulillah, wa ba’du:
Perkataan sebagian orang, “Fulan telah berpindah ke sisi Robbnya atau ke sisi Alloh,” adalah perkataan yang tidak boleh diucapkan. Karena kata ‘al-jiwar’ diambil dari kata ‘al-jaar’. Sedangkan ‘al-jaar’ terkadang maknanya adalah yang sesuatu tempatnya dekat. Terkadang pula bermakna yang mencari perlindungan dari yang lain. Maka jika dikatakan, ‘Fulan berpindah ke sisi Alloh’ berarti maknanya adalah dia menjadi tetangga bagi Alloh, dengan tinggal di surga. Dan ini adalah persaksian bahwa dia pasti mendapat surga. Atau maknanya, dia berada di sisi Alloh dan Alloh melindunginya dari neraka. Makna ini adalah konsekuensi dari makna yang pertama. Dan pada umumnya, orang-orang (yang mengucapkaannya) menghendaki makna yang pertama. Yang semisal dengan perkataan ini, adalah perkataan mereka, “Fulan telah berpindah atau berpulang ke rahmatulloh.” Kecuali jika perkataan ini dikaitkan dengan kehendak (yakni, jika mengucapkannya dengan insyaAlloh, maka tidak mengapa – pen). Dan yang lebih baik dari itu adalah mendoakan ampunan untuknya, rahmat, keselamatan dan kemenangan dengan menggapai surga. Wallohu a’lam.

Sumber: http://albrrak.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=33067&catid=&Itemid=35

Written by albamalanjy

21 Juli 2009 at 4:19 pm

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan ,

MENGOBATI SIHIR DENGAN SIHIR

without comments

Oleh: Syaikh Abdurrohman bin Nashir al-Barrak – hafizhohulloh -

Pertanyaan:
Bolehkah menghilangkan sihir dengan sihir ketika diperlukan?

Jawaban:
Alhamdulillah, mengobati atau menghilangkan sihir disebut dengan istilah “nusyroh.”
Jabir telah meriwayatkan bahwa Rosululloh – shollallohu ‘alaihi wa sallam - ditanya tentang nusyroh. Lalu beliau menjawab, “Itu adalah perbuatan setan.” Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid dan juga oleh Abu Daud.

Pengobatan sihir dengan sihir mengharuskan pergi menuju tukang sihir, bertanya tentang siapa yang melakukan sihir dan dimana tempatnya, dalam rangka untuk membatalkan sihir yang pertama. Dan telah maklum bahwa tukang sihir adalah salah satu jenis dukun. Padahal telah shohih dari Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam - (sabda beliau):

من أتى عرافا أو كاهنا فسأله ، فصدقه بما يقول ، فقد كفر بما أنزل على محمد

“Barangsiapa mendatangi peramal atau dukun, lalu bertanya kepadanya dan membenarkan perkataannya, maka dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”

Berdasarkan hal ini, maka tidak boleh menghilangkan sihir dengan sihir juga, karena hal itu merupakan perbuatan setan. Sedangkan bertanya kepada tukang sihir berkonsekuensi pembenaran terhadapnya.

Imam Ibnul Qoyyim berkata, “Nusyroh adalah menghilangkan sihir dari orang yang terkena sihir. Dan hal ini ada dua macam:
- Menghilangkan sihir dengan sihir semisalnya. Inilah yang termasuk perbuatan setan. Dan kepadanyalah dibawa perkataan al-Hasan, ‘Sihir tidak dihilangkan kecuali oleh tukang sihir.’ Maka orang yang menghilangkan sihir dan orang yang dilakukan amalan nusyroh ini mendekatkan diri kepada setan dengan apa yang dicintai setan, sehingga membatalkan amalannya dari orang yang terkena sihir.
- Yang kedua, nusyroh dengan ruqyah, bacaan ta’awwudz dan doa-doa yang mubah. Maka ini boleh.”
Wallohu a’lam.

Sumber (berbahasa arab):
http://albrrak.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=17166&Itemid=31

Written by albamalanjy

9 Juni 2009 at 1:56 pm

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan , ,

HUKUM BERSAFAR KE NEGRI KAFIR

without comments

Oleh: Syaikh Abdulaziz bin Abdillah bin Baz – rohimahulloh

Pertanyaan:
Apa hukum safar (bepergian) menuju negri kaum musyrikin dan keikutsertaan istri bersama suaminya?

Jawaban:
Nasihatku kepada setiap muslim dan muslimah adalah (agar mereka) tidak bepergian menuju negri kaum musyrikin, baik untuk belajar ataupun sekadar untuk berekreasi. Karena adanya bahaya yang besar terhadap agama dan akhlak mereka. Setiap pelajar hendaknya mencukupkan diri untuk belajar di negrinya atau di negri Islam yang di sana dia bisa merasa aman terhadap agama dan akhlaknya.

Telah shohih dari Rosululloh – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bahwa beliau bersabda, Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

2 Juni 2009 at 1:57 pm

TIDAKLAH MENGHERANKAN!

without comments

Oleh: Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan -hafizhohulloh.

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ؛ وبعد

Saya telah membaca perkataan sebagian masyaikh di koran al-Wathon, dia terheran-heran akan terpecahnya kaum muslimin di antara mereka padahal masing-masing dari mereka mengatakan, “Robbku Alloh, Nabiku Muhammad dan agamaku Islam.”
Dan saya katakan, hal itu tidaklah mengherankan, karena tidaklah cukup semata-mata ucapan tanpa berpegang teguh dengan apa yang ditunjukkan oleh ucapan itu. Maka tidaklah cukup perkataan seseorang, “Robbku adalah Alloh,” sampai dia istiqomah di atas kalimat ini dengan merealisasikan kandungannya, yaitu beribadah kepada Alloh semata tanpa menyekutukannya.
Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

15 Mei 2009 at 10:13 pm

Ditulis dalam Aqidah, Manhaj

Ditandai dengan , ,

Bolehkah berobat ke “Ponari”?

with one comment

Akhir-akhir ini, kaum muslimin Indonesia digemparkan dengan munculnya seorang dukun cilik yang diklaim bahwa batu yang dimilikinya bisa mendatangkan kesembuhan dari berbagai penyakit. Tentu saja hal ini membuat sedih hati orang-orang yang mengenal tauhid. Bagaimana tidak, beribu-ribu orang pun mau berdesak-desakan hanya untuk mendapatkan celupan batu kecil ke dalam air yang akan mereka gunakan untuk mengobati. Padahal Ponari si dukun cilik itu, ketika dirinya sakit tidak mampu mengobati dirinya dengan batu tersebut. Apakah mereka tidak memperhatikan? Apakah mereka tidak memikirkan?

Iya, ribuan manusia, yang kebanyakan mereka mengucapkan kalimat “laa ilaaha illalloh muhammad rosululloh“. Inilah perkara sangat menyedihkan yang kami singgung di atas. Dimana ribuan kaum muslimin yang mengucapkan dua kalimat syahadat, ternyata kurang atau bahkan tidak memahami kandungan makna kalimat syahadat tersebut. Lalu, apakah mereka bisa mengharapkan manfaat dari dua kalimat syahadat tersebut jika mereka tidak memahaminya?
Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

3 Maret 2009 at 10:00 pm

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan , , , ,

Keutamaan Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam

with 3 comments

KEUTAMAAN ROSUL shollallohu ‘alaihi wa sallam

Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah rohimahulloh berkata, “Tatkala telah sempurna iftiqoor (kebutuhan dan kerendahan diri) yang dimiliki oleh ar-Rosul shollallohu ‘alaihi wa sallam kepada Alloh subhaanahu wa ta’aalaa, maka seluruh makhluk sangat butuh kepada beliau baik di dunia maupun di akhirat. Adapun kebutuhan mereka kepada beliau di dunia, maka hal itu lebih dari pada kebutuhan mereka terhadap makanan, minuman dan udara yang semuanya itu adalah penopang kehidupan badan mereka. Adapun kebutuhan mereka kepada beliau di akhirat, karena mereka akan mencari syafa’at kepada Alloh dengan para rosul agar Dia mengistirahatkan mereka dari kesusahan yang mereka alami di tempat berdiri mereka, kemudian para rosul itu menolak (tidak bisa) memberikan syafaat sehingga beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam memberi syafaat bagi mereka. Dan beliau pulalah yang akan meminta agar pintu surga dibukakan untuk mereka.” [Lihat "al-Fawaaid" cet. Daarul 'Aqiidah halaman 148]
Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

26 September 2007 at 10:00 am

Ditulis dalam Aqidah