Archive for the ‘Akhlak’ Category
Antara Keluhan Orang yang Berilmu dan yang Jahil
Seorang jahil (orang yang bodoh) akan mengeluhkan (mengadukan) Alloh kepada manusia. Ini adalah puncaknya kebodohan akan siapa yang dikeluhkan dan siapa yang disampaikan keluhan kepadanya. Jika dia mengenal Robbnya, dia tentu tidak akan mengeluhkan-Nya. Dan jika dia mengetahui manusia, dia tentu tidak akan mengeluh kepada mereka. Sebagian salaf melihat seseorang yang mengeluhkan kekurangan dan kebutuhannya kepada orang lain. Maka dia (salaf) berkata, “wahai orang ini, Demi Alloh, engkau hanyalah mengadukan (Dzat) Yang merahmatimu kepada orang yang tidak merahmatimu.”
Tentang hal ini, dikatakan dalam syair,
وَإِذاَ شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّماَ تَشْكُو الرَّحِيْمَ إِلَى الَّذِي لاَ يَرْحَمُ
Jika engkau mengeluh kepada anak adam, sesungguhnya
Kau keluhkan ar-Rahiim (Alloh Yang Maha Penyayang) kepada yang tidak menyayangi
Seorang ‘arif (yang mengenal Alloh), hanya akan mengeluh kepada Alloh saja. Dan orang yang paling ‘arif adalah orang yang menjadikan pengaduannya kepada Alloh disebabkan karena dirinya bukan karena manusia. Sehingga dia mengeluhkan atau mengadukan penyebab penguasaan manusia atas dirinya. Dia melihat kepada firman Alloh
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [as-Syuro (42): 30]
Dan firman-Nya,
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisa (4): 79]
Dan firman-Nya,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Ali ‘Imron (3): 165]
Maka berarti ada tiga tingkatan,
Paling rendah, engkau mengadukan Alloh kepada makhluk.
Paling tinggi, engkau mengadukan dirimu kepada-Nya.
Dan yang pertengahan, engkau mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.
[Diterjemahkan oleh alBamalanjy dari “al-Fawa`id” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah –rohimahulloh-, hal. 85, cet. Darul Aqidah]
SOLUSI KURANGNYA RASA SYUKUR
Setelah kita mengetahui beberapa sebab kurangnya rasa syukur – dalam makalah sebelumnya – maka di sini akan kami sampaikan bagian dari apa yang kami lihat sebagai solusi terhadap kurangnya rasa syukur. Terlebih-lebih syukur dengan amalan, dengan anggota badan.
Di antaranya adalah sebagai berikut:
Baca entri selengkapnya »
SEBAB KURANGNYA RASA SYUKUR
Alloh menyebutkan dalam kitab-Nya, bahwa makhluk tidak akan mampu menghitung nikmat-nikmatNya kepada mereka. Alloh ‘Azza min Qo`il berkata,
وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا
“Dan seandainya kalian menghitung nikmat Alloh, kalian tidak akan (mampu) menghitungnya.” (an-Nahl: 18)
Maknanya, mereka tidak akan mampu bersyukur atas nikmat-nikmat Alloh dengan cara yang dituntut. Karena orang yang tidak mampu menghitung nikmat Alloh, bagaimana mungkin dia akan mensyukurinya?
Baca entri selengkapnya »
WASIAT ABU DARDA rodhiyallohu ‘anhu (bagian 5 dari 5 tulisan)
WASIAT KE EMPAT
Di antara perkataan Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, suatu ketika beliau melewati seseorang yang telah berbuat dosa dan disekitarnya orang-orang mencelanya. Maka Abu Darda yang mengetahui bagaimana mengobati jauhnya seseorang dari agama, bagaimana mengobati orang yang bermaksiat dan bagaimana mengobati hati yang sakit, beliau berkata kepada mereka (orang-orang yang mencela),
“Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapati dia berada di dalam jurang yang sangat dalam, apakah kalian akan menyelamatkannya?” Mereka menjawab, ‘Tentu!’. Lalu beliau berkata, “Maka pujilah Alloh yang telah menyelamatkan kalian, namun janganlah kalian mencela saudara kalian.”
WASIAT ABU DARDA rodhiyallohu ‘anhu (bagian 4 dari 5 tulisan)
WASIAT KE TIGA
Dan di antara perkataan Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, suatu ketika beliau berkata kepada para sahabatnya,
“Berlindunglah kalian kepada Alloh dari kekhusyu’an nifaq.” Mereka bertanya, Wahai Abu Darda, apa yang dimaksud kekhusyu’an nifaq? Beliau menjawab, “Jasad terlihat khusyu’ namun hatinya tidak khusyu’.”
WASIAT ABU DARDA rodhiyallohu ‘anhu (bagian 3 dari 5 tulisan)
WASIAT KE DUA
Dan di antara perkataan Abu Darda, pada suatu hari beliau berkata kepada para sahabatnya,
“Sesungguhnya aku memerintahkan kalian dengan kebaikan. Dan tidak semua yang aku perintahkan kepada kalian telah aku lakukan, akan tetapi aku mengharapkan pahala dengan memerintahkan kalian.”
WASIAT ABU DARDA rodhiyallohu ‘anhu (bagian 2 dari 5 tulisan)
WASIAT PERTAMA
Abu Darda rodhiyallohu ‘anhu, diantara perkataannya, beliau berkata,
“Carilah ilmu! Jika kalian tidak mampu maka cintailah ahlul ilmi (ulama, orang yang memiliki ilmu), jika kalian tidak bisa mencintai mereka maka janganlah kalian membenci mereka.”
Ini adalah wasiat untuk umat ini seluruhnya. Karena hal yang paling mulia dalam umat ini adalah ilmu. Namun ilmu apa yang dimaksud?
