Archive for Februari 2009
SIKAP MANUSIA TERHADAP JIHAD
Sesungguhnya jihad di jalan Alloh adalah perkara paling tinggi dalam syariat Islam, sebagaimana sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam - dalam suatu hadits yang shohih,
“Dan puncak ketinggiannya adalah jihad.” [Riwayat at-Tirmidzi, beliau mengatakan, hadits hasan shahih. Dishahihkan juga oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami' no. 5136]
Dan tatkala jihad memiliki kedudukan yang sangat tinggi, tentunya musuh Alloh pun berusaha untuk menyimpangkan manusia dari pemahaman yang benar dalam jihad. Sehingga perkara jihad pun menjadi perkara yang diperselisihkan manusia sebagaimana perkara-perkara lain dalam syariat Islam yang mulia ini.
Berikut ini, penjelasan Syaikh Shalih bin Sa’d as-Suhaimi -hafizhohulloh- tentang terbaginya manusia dalam menyikapi perkara jihad ini menjadi tiga kelompok. Penjelasan ini diambil dari Muhadhoroh (ceramah) beliau yang berjudul الإرهاب أسبابه وعلاجه وموقف المسلم من الفتن (Terorisme, sebab dan solusinya, serta sikap seorang muslim terhadap fitnah)
Dan dalam penjelasan ini terdapat isyarat tentang syarat-syarat jihad yang benar. Semoga kita bisa memperhatikan penjelasan ini dengan baik sehingga memberikan manfaat kepada kita.
Inilah penjelasan beliau -hafizhohulloh-:
Baca entri selengkapnya »
Apakah Musafir Menjamak Sholat?
Menjamak sholat, maksudnya adalah melaksanakan dua sholat (zhuhur dan ashar, atau maghrib dan isya) dalam satu waktu sholat. Terkadang atau mungkin sering kita melihat para musafir yang singgah di dekat masjid, meski mereka mendengar adzan dan tidak ada masyaqqoh (kesulitan) untuk mendatangi sholat berjamaah di masjid pada waktu-waktu yang ditetapkan, mereka tetap menjamak shalat mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan tersendiri, apakah memang jamak bagi musafir disyariatkan (dalam arti disunnahkah atau diwajibkan) ataukah hanya sekadar dibolehkan dan lebih utama sholat pada waktu masing-masing? Atau bahkan tidak ada syariat jamak bagi musafir?
Tentang hal ini, berikut ini disampaikan penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rohimahulloh – dalam asy-Syarhul Mumti’ Jilid ke-4 hal 387-390.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rohimahulloh – berkata: Baca entri selengkapnya »
Antara Keluhan Orang yang Berilmu dan yang Jahil
Seorang jahil (orang yang bodoh) akan mengeluhkan (mengadukan) Alloh kepada manusia. Ini adalah puncaknya kebodohan akan siapa yang dikeluhkan dan siapa yang disampaikan keluhan kepadanya. Jika dia mengenal Robbnya, dia tentu tidak akan mengeluhkan-Nya. Dan jika dia mengetahui manusia, dia tentu tidak akan mengeluh kepada mereka. Sebagian salaf melihat seseorang yang mengeluhkan kekurangan dan kebutuhannya kepada orang lain. Maka dia (salaf) berkata, “wahai orang ini, Demi Alloh, engkau hanyalah mengadukan (Dzat) Yang merahmatimu kepada orang yang tidak merahmatimu.”
Tentang hal ini, dikatakan dalam syair,
وَإِذاَ شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّماَ تَشْكُو الرَّحِيْمَ إِلَى الَّذِي لاَ يَرْحَمُ
Jika engkau mengeluh kepada anak adam, sesungguhnya
Kau keluhkan ar-Rahiim (Alloh Yang Maha Penyayang) kepada yang tidak menyayangi
Seorang ‘arif (yang mengenal Alloh), hanya akan mengeluh kepada Alloh saja. Dan orang yang paling ‘arif adalah orang yang menjadikan pengaduannya kepada Alloh disebabkan karena dirinya bukan karena manusia. Sehingga dia mengeluhkan atau mengadukan penyebab penguasaan manusia atas dirinya. Dia melihat kepada firman Alloh
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” [as-Syuro (42): 30]
Dan firman-Nya,
وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ
“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [an-Nisa (4): 79]
Dan firman-Nya,
أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata, Darimana datangnya (kekalahan) ini? Katakanlah, Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” [Ali ‘Imron (3): 165]
Maka berarti ada tiga tingkatan,
Paling rendah, engkau mengadukan Alloh kepada makhluk.
Paling tinggi, engkau mengadukan dirimu kepada-Nya.
Dan yang pertengahan, engkau mengadukan makhluk-Nya kepada-Nya.
[Diterjemahkan oleh alBamalanjy dari “al-Fawa`id” karya al-Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah –rohimahulloh-, hal. 85, cet. Darul Aqidah]
175 Jalan Menuju Surga Alloh
175 JALAN MENUJU SURGA ALLOH
dan
SURAT UNTUK PARA IBU
pemateri: Ust. Abu Ihsan al-Atsari al-Maidani -hafizhohulloh-
| waktu: Ahad, 11 Rabi’ul Awwal 1430 H 08 Maret 2009 M Jam 08.30 – 17.00 wib |
tempat: Masjid al-Ishlah Selatan SMP al-Irsyad Pemalang _ |
diselenggarakan oleh:
Yayasan al-Imam Muslim
Rt. 003/004 Paduraksa, Pemalang
informasi: 081807246957 | 081803951665 | 081911510889
MENUNTUT ILMU JALAN MENUJU SURGA
Sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam –,
ومَنْ سَلَكَ طَريقاً يَلتَمِسُ فِيه عِلماً ، سَهَّلَ الله لَهُ بِهِ طَريقاً إلى الجَنَّةِ
“Barangsiapa menempuh suatu jalan mencari ilmu padanya, niscaya Alloh akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”[1]
Hadits semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Abu ad-Darda dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.[2]
Dan termasuk ke dalam makna menempuh jalan untuk mencari ilmu; menempuh jalan hakiki (yang sesungguhnya), yaitu berjalan dengan kaki menuju majelis para ulama.
Baca entri selengkapnya »
