alBamalanjy

Berpegang Dengan al-Qur’an & as-Sunnah Menurut Pemahaman Salaful Ummah

AGAR SHOLAT DITERIMA

tinggalkan komentar »

Sesungguhnya di antara sifat seorang mukmin adalah senantiasa merasa khawatir kalau-kalau amalan baiknya tidak diterima oleh Alloh – ta’ala. Alloh berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (*) أُولٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (al-Mu’minun: 60-61)

Tentang ayat ini, Aisyah – rodhiyallohu ‘anha – pernah bertanya kepada Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – apakah mereka (yang dimaksud dalam ayat ini) adalah orang yang minum khomer dan mencuri? Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

12 November 2009 at 11:45 pm

Ditulis dalam Ubudiyah

Ditandai dengan , ,

MAKMURKAN MASJID DENGAN SHOLAT BERJAMAAH

tinggalkan komentar »

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولٰئِكَ أَن يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

Para ahli tafsir mengatakan, orang-orang yang memiliki sifat seperti tersebut dalam ayat (beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan hanya takut kepada Allah) merekalah orang-orang yang berhak memakmurkan masjid.

Dari sini hendaknya kita tanyakan kepada diri kita; apakah kita orang yang beriman? Jika kita orang beriman, maka hendaknya Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

12 November 2009 at 9:51 pm

Ditulis dalam Nasihat

Ditandai dengan , ,

PENYAKIT HATI DAN OBATNYA (e-book)

tinggalkan komentar »

Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tentu akan memperhatikan amalan-amalannya. Dia akan senantiasa berusaha memperbagus amalan-amalannya, sehingga dia benar-benar ditulis oleh Allah sebagai orang yang bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepadanya.

Maka ketahuilah, – semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebaikan – bahwa semua kebaikan bergantung kepada hati yang ada dalam dada. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,

ألاَ وَإنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَت صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، ألاَ وَهِيَ القَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad pun akan menjadi baik. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh jasad pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Riwayat al-Bukhari (1/19) dan Muslim (1219) dari Nu’man bin Basyir]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani – rohimahulloh – berkata,
“Beliau mengkhususkan hati dengan hal tersebut karena hati adalah pemimpin badan. Dengan baiknya pemimpin, maka rakyat akan menjadi baik, dengan rusaknya pemimpin, rakyat pun menjadi rusak. Dan dalam hadits ini terdapat peringatan untuk mengagungkan kedudukan hati dan anjuran untuk memperbaikinya…” [Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Iman Bab Fadhli Man Istabra`a Lidinihi]

Untuk lebih mengenal tentang hati, penyakit dan obatnya, silahkan download artikel berikut di sini.
Semoga bermanfaat…

Written by albamalanjy

30 Oktober 2009 at 9:08 pm

Ditulis dalam Tazkiyatun nafs

Ditandai dengan , , , ,

al-Wala dan al-Baro

with one comment

Seorang Muslim yang mengucapkan dua kalimat syahadat tentu dituntut untuk mengerjakan konsekuensi dari dua kalimat tersebut. Dan salah satu konsekuensi terbesar darinya adalah sikap wala (loyalitas) terhadap sesama muslim dan sikap baro (berlepas diri dan memusuhi) terhadap orang kafir.
Oleh karena itu, permasalahan al-wala dan al-Baro sungguh menempati kedudukan yang sangat penting dalam agama ini.
Berikut ini akan disampaikan sebuah fatwa ringkas dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin – rohimahulloh – berkenaan dengan bagaimana sikap kita dalam masalah al-Wala dan al-Baro ini.
Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

27 Oktober 2009 at 6:54 am

Ditulis dalam Manhaj

Ditandai dengan , , ,

PELAKU MAKSIAT TIDAK KEKAL DI NERAKA

with 2 comments

Oleh : Syaikh Abdulaziz bin Baz - rohimahulloh -

Pertanyaan:

Alloh ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawahnya, bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Dia juga berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sungguh Aku benar-benar Maha pengampun terhadap orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian dia menerima petunjuk.”
Apakah ada kontradiksi antara kedua ayat ini? Lalu apa yang dimaksud dengan “dosa yang di bawahnya, bagi sapa yang Dia kehendaki?”
Dari A-A-Z, di Jedah

Jawaban: Baca entri selengkapnya »

Written by albamalanjy

26 Oktober 2009 at 9:21 am

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan , , ,

LARANGAN MEMBERONTAK, PERKARA IJTIHADIYAH?

tinggalkan komentar »

Oleh: Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan – hafizhohulloh.

Pertanyaan:
Bagaimana pendapat Anda – semoga Alloh menjaga Anda – tentang orang yang berkata, “Sesungguhnya permasalahan (larangan) memberontak pemerintah adalah permasalahan ijtihadiyah, telah terjadi perselisihan di antara salaf, dan tidak boleh memvonis bid’ah atau fasiq kepada orang yang menyelisihinya.”?

Jawaban:
Ini adalah kebohongan dan kedustaan atas Rasul – shollallohu ‘alaihi wa sallam -. Permasalahan ini bukanlah tempat untuk berijtihad. Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam - bersabda,

من أتاكم وأمركم جميع على رجل منكم يريد أن يفرق جماعتكم فاضربوا عنقه كائناً من كان

“Siapa yang datang kepada kalian ketika kalian bersatu pada seorang pemimpin di antara kalian, (dia datang) dengan keinginan untuk memecah belah jamaah (persatuan) kalian, maka penggallah lehernya, siapapun orangnya itu.”
Beliau juga bersabda,

من فارق الجماعة ومات وهو مفارق للجماعة فقد مات ميتة جاهلية [أو] فقد خلع ربقة الإسلام من عنقه

“Siapa saja yang meninggalkan jamaah, dan dia meninggal dalam keadaan meninggalkan jamaah, maka dia meninggal dengan kematian jahiliyah.” atau “maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”
Maka tidak boleh memberontak kepada seorang pemimpin yang muslim. Bahkan wajib menaatinya dan haram memberontak kepadanya. Karena dalam pemberontakan kepadanya akan timbul pertumpahan darah, pemecahbelahan persatuan, dan tersia-siakannya umat ini. Sekarang kalian bisa menyaksikan, negara-negara yang meberontak pemimpinnya, apa yang terjadi di sana berupa pembunuhan pertumpahan darah, hilangnya keamanan, padahal penguasa mereka bukanlah orang-orang Islam. Akan tetapi, tatkala mereka memberontak kepada penguasa mereka, terjadilah apa yang telah terjadi di Somalia, di Afganistan, di Iraq dan di seluruh tempat. Lalu bagaimana jika pemimpinnya adalah seorang muslim. Tidak boleh memberontak kepadanya, karena akan menumpahkan darah, dan menghilangkan keamanan. Juga karena akan menyebabkan penguasaan orang-orang kafir kepada kaum muslimin, juga karena akan memecah belah persatuan kaum muslimin.

Dari kaset rekaman beliau dengan judul “al-Liqo al-Maftuh” bertanggal 23/3/1425 H side A

Diterjemahkan dari: http://www.islamancient.com/fatawa,item,53.html

Written by albamalanjy

22 Oktober 2009 at 2:52 pm

Ditulis dalam Manhaj

Ditandai dengan ,

PERKATAAN, ‘Fulan berpindah ke sisi Allah’

with 2 comments

Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak – hafizhohulloh.

Pertanyaan:
Apa hukum perkataan orang-orang, “Fulan telah berpindah ke sisi (jiwaar) Robbnya?”

Jawaban:
Alhamdulillah, wa ba’du:
Perkataan sebagian orang, “Fulan telah berpindah ke sisi Robbnya atau ke sisi Alloh,” adalah perkataan yang tidak boleh diucapkan. Karena kata ‘al-jiwar’ diambil dari kata ‘al-jaar’. Sedangkan ‘al-jaar’ terkadang maknanya adalah yang sesuatu tempatnya dekat. Terkadang pula bermakna yang mencari perlindungan dari yang lain. Maka jika dikatakan, ‘Fulan berpindah ke sisi Alloh’ berarti maknanya adalah dia menjadi tetangga bagi Alloh, dengan tinggal di surga. Dan ini adalah persaksian bahwa dia pasti mendapat surga. Atau maknanya, dia berada di sisi Alloh dan Alloh melindunginya dari neraka. Makna ini adalah konsekuensi dari makna yang pertama. Dan pada umumnya, orang-orang (yang mengucapkaannya) menghendaki makna yang pertama. Yang semisal dengan perkataan ini, adalah perkataan mereka, “Fulan telah berpindah atau berpulang ke rahmatulloh.” Kecuali jika perkataan ini dikaitkan dengan kehendak (yakni, jika mengucapkannya dengan insyaAlloh, maka tidak mengapa – pen). Dan yang lebih baik dari itu adalah mendoakan ampunan untuknya, rahmat, keselamatan dan kemenangan dengan menggapai surga. Wallohu a’lam.

Sumber: http://albrrak.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=33067&catid=&Itemid=35

Written by albamalanjy

21 Juli 2009 at 4:19 pm

Ditulis dalam Aqidah

Ditandai dengan ,