PENYAKIT HATI DAN OBATNYA (e-book)
Seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tentu akan memperhatikan amalan-amalannya. Dia akan senantiasa berusaha memperbagus amalan-amalannya, sehingga dia benar-benar ditulis oleh Allah sebagai orang yang bersyukur atas kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepadanya.
Maka ketahuilah, – semoga Allah senantiasa membimbing kita kepada kebaikan – bahwa semua kebaikan bergantung kepada hati yang ada dalam dada. Rasulullah – shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ini ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad pun akan menjadi baik. Dan jika segumpal daging itu rusak, maka seluruh jasad pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Riwayat al-Bukhari (1/19) dan Muslim (1219) dari Nu’man bin Basyir]
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani – rohimahulloh – berkata,
“Beliau mengkhususkan hati dengan hal tersebut karena hati adalah pemimpin badan. Dengan baiknya pemimpin, maka rakyat akan menjadi baik, dengan rusaknya pemimpin, rakyat pun menjadi rusak. Dan dalam hadits ini terdapat peringatan untuk mengagungkan kedudukan hati dan anjuran untuk memperbaikinya…” [Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari dalam Kitab al-Iman Bab Fadhli Man Istabra`a Lidinihi]
Untuk lebih mengenal tentang hati, penyakit dan obatnya, silahkan download artikel berikut di sini.
Semoga bermanfaat…
PELAKU MAKSIAT TIDAK KEKAL DI NERAKA
Oleh : Syaikh Abdulaziz bin Baz - rohimahulloh -
Pertanyaan:
Alloh ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Alloh tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawahnya, bagi siapa yang Dia kehendaki.”
Dia juga berfirman,
“Dan sungguh Aku benar-benar Maha pengampun terhadap orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, kemudian dia menerima petunjuk.”
Apakah ada kontradiksi antara kedua ayat ini? Lalu apa yang dimaksud dengan “dosa yang di bawahnya, bagi sapa yang Dia kehendaki?”
Dari A-A-Z, di Jedah
Jawaban: Baca entri selengkapnya »
LARANGAN MEMBERONTAK, PERKARA IJTIHADIYAH?
Oleh: Syaikh Sholih bin Fauzan al-Fauzan – hafizhohulloh.
Pertanyaan:
Bagaimana pendapat Anda – semoga Alloh menjaga Anda – tentang orang yang berkata, “Sesungguhnya permasalahan (larangan) memberontak pemerintah adalah permasalahan ijtihadiyah, telah terjadi perselisihan di antara salaf, dan tidak boleh memvonis bid’ah atau fasiq kepada orang yang menyelisihinya.”?
Jawaban:
Ini adalah kebohongan dan kedustaan atas Rasul – shollallohu ‘alaihi wa sallam -. Permasalahan ini bukanlah tempat untuk berijtihad. Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam - bersabda,
“Siapa yang datang kepada kalian ketika kalian bersatu pada seorang pemimpin di antara kalian, (dia datang) dengan keinginan untuk memecah belah jamaah (persatuan) kalian, maka penggallah lehernya, siapapun orangnya itu.”
Beliau juga bersabda,
“Siapa saja yang meninggalkan jamaah, dan dia meninggal dalam keadaan meninggalkan jamaah, maka dia meninggal dengan kematian jahiliyah.” atau “maka dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.”
Maka tidak boleh memberontak kepada seorang pemimpin yang muslim. Bahkan wajib menaatinya dan haram memberontak kepadanya. Karena dalam pemberontakan kepadanya akan timbul pertumpahan darah, pemecahbelahan persatuan, dan tersia-siakannya umat ini. Sekarang kalian bisa menyaksikan, negara-negara yang meberontak pemimpinnya, apa yang terjadi di sana berupa pembunuhan pertumpahan darah, hilangnya keamanan, padahal penguasa mereka bukanlah orang-orang Islam. Akan tetapi, tatkala mereka memberontak kepada penguasa mereka, terjadilah apa yang telah terjadi di Somalia, di Afganistan, di Iraq dan di seluruh tempat. Lalu bagaimana jika pemimpinnya adalah seorang muslim. Tidak boleh memberontak kepadanya, karena akan menumpahkan darah, dan menghilangkan keamanan. Juga karena akan menyebabkan penguasaan orang-orang kafir kepada kaum muslimin, juga karena akan memecah belah persatuan kaum muslimin.
Dari kaset rekaman beliau dengan judul “al-Liqo al-Maftuh” bertanggal 23/3/1425 H side A
Diterjemahkan dari: http://www.islamancient.com/fatawa,item,53.html
PERKATAAN, ‘Fulan berpindah ke sisi Allah’
Oleh: Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak – hafizhohulloh.
Pertanyaan:
Apa hukum perkataan orang-orang, “Fulan telah berpindah ke sisi (jiwaar) Robbnya?”
Jawaban:
Alhamdulillah, wa ba’du:
Perkataan sebagian orang, “Fulan telah berpindah ke sisi Robbnya atau ke sisi Alloh,” adalah perkataan yang tidak boleh diucapkan. Karena kata ‘al-jiwar’ diambil dari kata ‘al-jaar’. Sedangkan ‘al-jaar’ terkadang maknanya adalah yang sesuatu tempatnya dekat. Terkadang pula bermakna yang mencari perlindungan dari yang lain. Maka jika dikatakan, ‘Fulan berpindah ke sisi Alloh’ berarti maknanya adalah dia menjadi tetangga bagi Alloh, dengan tinggal di surga. Dan ini adalah persaksian bahwa dia pasti mendapat surga. Atau maknanya, dia berada di sisi Alloh dan Alloh melindunginya dari neraka. Makna ini adalah konsekuensi dari makna yang pertama. Dan pada umumnya, orang-orang (yang mengucapkaannya) menghendaki makna yang pertama. Yang semisal dengan perkataan ini, adalah perkataan mereka, “Fulan telah berpindah atau berpulang ke rahmatulloh.” Kecuali jika perkataan ini dikaitkan dengan kehendak (yakni, jika mengucapkannya dengan insyaAlloh, maka tidak mengapa – pen). Dan yang lebih baik dari itu adalah mendoakan ampunan untuknya, rahmat, keselamatan dan kemenangan dengan menggapai surga. Wallohu a’lam.
Sumber: http://albrrak.net/index.php?option=com_ftawa&task=view&id=33067&catid=&Itemid=35
ANTARA MENUNTUT ILMU DAN MENIKAH
Oleh: Syaikh Kholid bin Ali al-Musyaiqih – hafizhohulloh.
Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh. Semoga Alloh berbuat kebaikan kepada Anda wahai Syaikh.
Wahai Syaikh, saya sekarang berada pada awal permulaan jalan menuntut ilmu. Dan karena melihat berbagai fitnah pada zaman kita ini, jiwaku berkeinginan untuk menikah. Apakah pernikahan akan berpengaruh kepada tholabul ilmi, sedangkan saya sekarang berumur dua puluh satu tahun? Apa nasihat Anda kepadaku, apakah saya terus maju untuk menikah ataukah menunggu sampai saya memperoleh bagian dari ilmu? Semoga Alloh memberkati Anda.
Jawaban:
Alhamdulillah, wash-Sholatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Shohbihi ajma’in. Baca entri selengkapnya »
BERITA DUKA
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (١٥٥) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (١٥٦) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (١٥٧)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita hanya akan kembali kepada-Nya). Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Telah berpindah ke rahmat Alloh ta’ala, Syaikh kami, Panutan kami, Orang tua kami, asy-Syaikh Abdulloh bin Abdirrohman bin Jibrin pada jam 2 siang hari senin 20 Rajab 1430 H. Beliau akan disholatkan pada siang hari selasa 21 Rajab 1430 H di (masjid) Jami’ al-Imam Turki bin Abdillah (al-Jami’ al-Kabir) di Riyadh. Dan beliau akan dimakamkan di pekuburan al-Aud.
Kami memohon kepada Alloh agar mencurahkan rahmat-Nya kepada beliau, dan membalas beliau dari kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan. Dan menjadikan beliau bersama para malaikat di surga firdaus yang paling tinggi. Sesungguhnya Dia Yang mengurusi hal itu dan Yang berkuasa atasnya.
inna lillahi wa inna ilaihi roji’un
Kantor Syaikh Abdulloh al-Jibrin
Senin 20 Rajab 1430 H (13 Juli 2009 M)
